Instagram kini memperketat aturan bagi akun influencer yang menggunakan karakter buatan kecerdasan buatan (AI) yang menyerupai manusia. Perubahan kebijakan ini mewajibkan penggunaan label profil khusus bagi para influencer AI tersebut. Langkah ini diambil untuk memastikan transparansi dan kejujuran kepada para pengguna platform media sosial tersebut.
Meta, perusahaan induk Instagram, mengumumkan bahwa akun yang menampilkan karakter manusia yang dihasilkan oleh AI, atau yang dikenal sebagai virtual influencer, kini harus menyertakan label yang jelas pada profil mereka. Label ini akan mengindikasikan bahwa karakter tersebut bukanlah manusia asli. Peraturan ini mulai berlaku efektif pada tanggal 22 Februari 2024.
Juru bicara Meta, Jessica Palfrey, menegaskan pentingnya kejujuran dalam penggunaan AI di platform mereka. “Kami merasa penting bagi orang-orang untuk mengetahui kapan mereka berinteraksi dengan konten yang dibuat oleh AI,” ujarnya dalam sebuah pernyataan. “Inisiatif ini adalah bagian dari upaya berkelanjutan kami untuk mempromosikan transparansi di seluruh produk kami.”
Pihak Instagram berkomitmen untuk memberikan panduan yang jelas mengenai penerapan label ini. Akun-akun yang tidak mematuhi aturan baru ini akan dihadapkan pada sanksi. Sanksi tersebut dapat berupa penghapusan konten yang melanggar hingga penangguhan akun. Tujuan utamanya adalah untuk mencegah penipuan dan misinformasi yang mungkin timbul dari karakter AI yang ditampilkan seolah-olah manusia sungguhan.
Kebijakan ini muncul sebagai respons terhadap maraknya penggunaan influencer AI di berbagai platform media sosial, termasuk Instagram. Virtual influencer seperti Lil Miquela telah meraih jutaan pengikut dan bahkan berkolaborasi dengan berbagai merek ternama. Namun, tanpa label yang jelas, pengguna awam mungkin kesulitan membedakan antara interaksi dengan manusia asli dan karakter digital.
Dengan adanya label profil baru ini, Instagram berharap dapat menciptakan lingkungan yang lebih terpercaya bagi para penggunanya. Pengguna akan memiliki informasi yang cukup untuk membuat keputusan sadar mengenai konten yang mereka lihat dan interaksi yang mereka lakukan. Aturan ini juga diharapkan dapat mendorong para kreator konten AI untuk lebih bertanggung jawab dalam menyajikan karya mereka kepada publik.
