Puluhan ribu warga Singapura menyuarakan penolakan keras terhadap rencana pembangunan perumahan baru di kawasan Hutan Maju. Protes publik ini muncul sebagai respons atas usulan pemerintah yang dinilai mengancam kelestarian ekosistem hijau di negara tersebut.
Kekhawatiran utama para penolak adalah dampak lingkungan yang akan ditimbulkan dari hilangnya area hutan yang luas. Hutan Maju sendiri merupakan salah satu ruang hijau penting yang tersisa di Singapura, berperan vital dalam menjaga keanekaragaman hayati dan kualitas udara.
Gerakan penolakan ini diinisiasi oleh beberapa kelompok masyarakat sipil yang peduli lingkungan. Mereka berargumen bahwa solusi kebutuhan perumahan seharusnya tidak mengorbankan aset alam yang tak ternilai harganya. Berbagai bentuk protes telah dilancarkan, mulai dari petisi daring hingga kampanye edukasi publik.
Salah satu petisi yang beredar berhasil mengumpulkan puluhan ribu tanda tangan dalam waktu singkat. Petisi tersebut secara tegas mendesak pemerintah untuk meninjau kembali rencana tersebut dan mencari alternatif lokasi pembangunan yang tidak berdampak pada kawasan hijau. Para aktivis juga menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara pembangunan urban dan pelestarian lingkungan.
Juru bicara dari salah satu kelompok advokasi lingkungan, yang enggan disebutkan namanya, menyatakan, “Kami memahami kebutuhan akan perumahan, namun menghancurkan hutan yang telah ada selama puluhan tahun bukanlah solusi yang berkelanjutan. Ada cara lain untuk membangun tanpa harus memusnahkan alam.” Pernyataan ini mencerminkan kekecewaan dan ketidakpuasan publik terhadap prioritas pembangunan pemerintah.
Pemerintah Singapura sendiri belum memberikan tanggapan resmi yang mendalam terkait gelombang protes ini. Namun, pejabat terkait sebelumnya telah menyatakan bahwa rencana pembangunan perumahan di Hutan Maju merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk memenuhi kebutuhan hunian warga yang terus meningkat. Keputusan akhir mengenai kelanjutan proyek ini masih menjadi sorotan utama publik.
