Menyambut akhir pekan, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berhasil ditutup dengan penguatan pada Jumat, 28 Agustus 2026. Mata uang Garuda ini tercatat menguat 51 poin atau setara dengan 0,29%, mengakhiri perdagangan di level Rp17.693 per dolar AS.
Penguatan rupiah ini memberikan sentimen positif di pasar keuangan domestik. Anjloknya Indeks Harga Konsumen (IHK) Amerika Serikat yang hanya naik 0,2% pada Juli 2026 menjadi salah satu faktor penopang penguatan rupiah. Data ini menunjukkan adanya perlambatan inflasi di negara Paman Sam, yang secara tidak langsung meredakan kekhawatiran akan kenaikan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Analis pasar keuangan, Budi Santoso, menyoroti dampak positif dari data inflasi AS tersebut. Ia menyatakan, “Perlambatan inflasi di AS memberikan ruang bagi The Fed untuk tidak terburu-buru menaikkan suku bunga. Ini tentu saja menjadi angin segar bagi mata uang emerging market, termasuk rupiah.” Budi menambahkan bahwa pasar kini cenderung lebih optimis terhadap prospek ekonomi global.
Selain faktor inflasi AS, pergerakan rupiah juga dipengaruhi oleh kebijakan moneter Bank Indonesia (BI). Pernyataan Gubernur BI, Perry Warjiyo, yang menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah turut memberikan kepercayaan diri bagi pelaku pasar. Perry Warjiyo sebelumnya menyatakan, “Bank Indonesia akan terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui intervensi di pasar valuta asing jika diperlukan, serta melalui kebijakan suku bunga yang tetap akomodatif namun hati-hati.” Pernyataan ini menegaskan keseriusan BI dalam mengendalikan volatilitas rupiah.
Perdagangan pada Jumat lalu menunjukkan volume transaksi yang cukup aktif, mencerminkan partisipasi investor yang memanfaatkan momentum penguatan rupiah. Level Rp17.693 per dolar AS menjadi penanda penting yang menunjukkan ketahanan rupiah di tengah dinamika pasar global. Penguatan ini diharapkan dapat berlanjut dan memberikan dampak positif bagi perekonomian Indonesia dalam jangka pendek.
