Lionel Messi: Raja Rekor Abadi yang Terus Mengukir Sejarah di Piala Dunia 2026

Danu Ilham

Dunia sepak bola terus dibuat takjub oleh keajaiban Lionel Messi. Sepuluh tahun setelah sempat mengumumkan pensiun dari panggung internasional, kapten tim nasional Argentina ini justru semakin mengukuhkan dirinya sebagai legenda hidup. Di gelaran Piala Dunia 2026, Messi tidak hanya memimpin Argentina sebagai juara bertahan, tetapi juga terus memecahkan rekor demi rekor, membuktikan bahwa usia hanyalah angka bagi sang maestro. Kecerdasan bermainnya yang berada di level luar biasa terus menjadi kunci performa gemilangnya.

Kisah Messi dengan timnas Argentina sempat berada di titik terendah pada tahun 2016. Setelah kekalahan menyakitkan dari Chile di final Copa America, di mana ia gagal mengeksekusi penalti krusial, Messi merasa tak sanggup lagi menanggung beban. "Bagi saya, tim nasional sudah berakhir," ujarnya kala itu, menyatakan rasa sakitnya karena tidak bisa menjadi juara setelah empat kali mencapai final turnamen besar dalam sembilan tahun. Sulit membayangkan bahwa satu dekade kemudian, menjelang ulang tahunnya yang ke-39, ia masih berdiri kokoh, tidak hanya bermain untuk La Albiceleste sebagai juara dunia bertahan, tetapi juga mencetak sejarah sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang masa di Piala Dunia.

Keputusan krusial Messi untuk membatalkan pensiunnya itu terbukti menjadi titik balik yang mengawali era kejayaan bagi dirinya dan negaranya. Argentina berhasil menjuarai dua edisi Copa America terakhir secara beruntun. Puncaknya, pada tahun 2022, Messi memimpin timnya meraih gelar Piala Dunia ketiga, yang pertama sejak Diego Maradona pada 1986, dengan torehan tujuh gol, termasuk dua di partai final yang epik. Momen itu mengukuhkan statusnya sebagai salah satu, jika bukan yang terbaik, dalam sejarah sepak bola.

Terbaru, dalam pertandingan fase grup Piala Dunia 2026, Messi kembali mengukir tinta emas. Pada Senin, tepat 40 tahun setelah Maradona mencetak dua gol ikonik dalam kemenangan 2-1 atas Inggris di perempat final Piala Dunia 1986, Messi menorehkan dua gol gemilang dalam kemenangan 2-0 Argentina atas Austria. Komentator BBC, Steve Bower, menyebutnya sebagai "satu lagi momen Messi yang abadi," menggambarkan betapa setiap penampilannya selalu menyajikan hal istimewa. Messi sendiri mengungkapkan kebahagiaannya, "Saya menikmati bermain dan bersenang-senang di lapangan. Kami juga senang melihat orang-orang seperti ini, bisa memberi mereka kebahagiaan seperti ini."

Meskipun mengawali pertandingan melawan Austria dengan kurang ideal, yakni kegagalan mengeksekusi penalti pada menit kedelapan, Messi segera melupakan insiden itu. Sekitar 30 menit kemudian, ia mencetak gol ke-17 di Piala Dunia melalui sepakan mendatar, sebuah torehan yang melampaui legenda penyerang Jerman, Miroslav Klose, sebagai pencetak gol terbanyak sepanjang sejarah turnamen akbar ini. Tak berhenti di situ, gol ke-18 pun lahir dari kakinya pada masa tambahan waktu babak kedua, ketika ia dengan cerdik menyelipkan bola dari sudut sempit melewati dua bek Austria.

Jurnalis sepak bola Spanyol, Guillem Balague, menggambarkan fenomena Messi dengan apik di BBC Radio 5 Live. "Kami tidak punya waktu untuk membuat patung bagi Lionel Messi atau melakukan analisis mendalam tentangnya di surat kabar. Kami tidak bisa mengejarnya," ujarnya, menggarisbawahi betapa cepatnya Messi terus menciptakan sejarah. Kini, Messi telah mengoleksi 18 gol dalam 28 pertandingan Piala Dunia. Dengan laga melawan Yordania yang akan datang dan Argentina sudah memastikan tempat di babak 32 besar, sulit rasanya untuk tidak membayangkan ia akan menambah jumlah tersebut. Messi kini tampil di Piala Dunia keenamnya dan telah mencetak 13 gol di turnamen ini sejak membatalkan keputusan pensiunnya. Menariknya, 12 dari total 18 golnya di panggung terbesar sepak bola itu tercipta setelah ia berusia 35 tahun, dengan 14 gol menggunakan kaki kiri dan empat lainnya dari tendangan luar kotak penalti.

"Dia menikmati segalanya dan itu yang terpenting," tambah Balague. "Saya pernah melihat dia bermain di Piala Dunia ketika tidak mampu bertahan selama 90 menit. Di sini, di akhir laga, dia berlari seperti pemain lain, kini dia sangat memahami kondisi tubuhnya. Messi tidak perlu banyak berlari. Dia bahkan tidak membutuhkan kecepatan eksplosif untuk melewati lawan, karena dia melakukannya dengan kecerdasan. Saya pikir kita masih akan melihatnya lagi dalam empat tahun ke depan." Pandangan ini menegaskan bagaimana Messi telah beradaptasi dan mengoptimalkan kecerdasannya di lapangan untuk mempertahankan performa puncak.

Statistiknya kian mengesankan. Messi telah mencetak seluruh lima gol Argentina di Piala Dunia kali ini, sekaligus unggul dua gol di puncak daftar pencetak gol terbanyak turnamen. Saat menghadapi Austria, ia menjadi pemain ketiga yang mampu mencetak gol dalam enam pertandingan Piala Dunia secara beruntun, menyamai rekor Just Fontaine (Prancis, 1958) dan Jairzinho (Brasil, 1970). Dua golnya ke gawang Austria juga berarti ia memaksimalkan kedua peluang yang dimilikinya, sekaligus tercatat sebagai pemain dengan jumlah peluang yang diciptakan terbanyak sepanjang sejarah turnamen (76). Dalam enam laga terakhirnya di Piala Dunia, ia terlibat dalam 12 gol, mencetak 10 gol dan menyumbang dua umpan.

"Apakah kita sedang menyaksikan pemain terhebat sepanjang masa? Itu mungkin saja dan layak untuk diperdebatkan," kata mantan bek Wales, Ashley Williams, di BBC One. "Kita mungkin baru saja menyaksikan pemain terbaik yang pernah ada dalam sepak bola." Mantan gelandang Inggris, Danny Murphy, sependapat. "Lionel Messi terus muncul di area-area berbahaya dengan peran bebas yang dia miliki," ujarnya. "Kecerdasan bermainnya berada di level luar biasa, dia selalu menemukan ruang dan memiliki timing yang sempurna, dari pemain terbaik yang pernah saya lihat." Olivier Giroud, mantan penyerang Prancis yang menjuarai Piala Dunia 2018, turut memuji, "Secara fisik dia tidak mengalami kesulitan, dia mengelola gaya hidup sehatnya dengan baik, itu memang harus, jika ingin bermain selama itu. Dia luar biasa. Dia diberkahi kemampuan untuk terus bermain dari satu pertandingan ke pertandingan berikutnya."

Namun, muncul pertanyaan tentang ketergantungan Argentina pada sang kapten. Mantan penyerang Inggris, Chris Sutton, di BBC Radio 5 Live, menyoroti, "Keajaiban Lionel Messi kembali terlihat untuk Argentina. Bukan hanya soal gol, tetapi juga kontribusinya bagi tim. Cara dia merangkai permainan, dia adalah sosok kecil untuk momen-momen besar. Mungkin sisi negatif bagi Lionel Scaloni adalah dia tentu ingin pemain lain juga berkontribusi lewat gol. Mereka tidak bisa hanya bergantung pada Messi, atau mungkin justru bisa?" Pertanyaan ini menambah dinamika dalam perdebatan tentang peran Messi dalam skuad.

Bahkan dalam kegagalan sekalipun, Messi tetap mencatatkan rekor. Ia memang menjadi sorotan utama berkat ketajamannya, namun ada pula catatan yang tak diinginkan. Saat Argentina mendapat hadiah penalti setelah Lautaro Martinez dijatuhkan, tendangan Messi justru melenceng dari sasaran. "Ada momen di mana saya sangat marah soal penalti itu, karena saya gagal dan saya menanganinya dengan sangat buruk," ujar Messi. "Untungnya kami bisa membalikkan keadaan, unggul, dan meraih tiga poin." Ia menjadi pemain pertama yang gagal mengeksekusi penalti di Piala Dunia 2026, dan kini memegang rekor sebagai pemain dengan jumlah penalti terbanyak yang diambil (tujuh) sekaligus yang paling banyak gagal (tiga) dalam sejarah turnamen, di luar adu penalti. Ia juga tercatat gagal mencetak gol dalam enam dari 31 penalti bersama Argentina. Namun, dengan dua gol yang akhirnya dia cetak, ini menjadi laga kompetitif pertama di mana Messi mampu mencetak gol untuk Argentina setelah sebelumnya gagal mengeksekusi penalti.

"Messi bagaimanapun juga manusia, dia boleh saja sesekali melakukan kesalahan," kata Murphy. Mungkin memang sudah takdir bahwa gol pemecah rekornya tercipta dengan gaya khas Messi yang lebih memukau. "Mungkin dia sengaja gagal," ujar Murphy berseloroh. "Bisa jadi memecahkan rekor itu memang harus lewat gol yang lebih indah." Pakar sepak bola Amerika Selatan, Tim Vickery, menambahkan, "Para dewa sepak bola tampaknya tidak ingin dia memecahkan rekor lewat penalti, mereka ingin dia melakukannya lewat gol dari permainan terbuka. Argentina membangun tim di sekelilingnya, dan saya tidak ingin karnaval ini berakhir."

Meskipun sudah memegang banyak rekor, masih ada catatan lain yang berpotensi ia pecahkan. Target berikutnya bisa jadi rekor assist terbanyak di Piala Dunia, karena saat ini Messi sejajar dengan Maradona dengan delapan assist. Laga melawan Yordania pada pertandingan terakhir grup menjadi peluang berikutnya bagi Messi untuk kembali menorehkan sejarah dalam sepak bola, melanjutkan "karnaval" keajaiban yang ia suguhkan di setiap pertandingan. Dunia terus menantikan rekor apa lagi yang akan diukir oleh sang Raja Rekor Abadi ini.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All