Beijing merespons dengan tegas ancaman Amerika Serikat yang berencana memperluas sanksi sekunder terkait Iran. China menegaskan akan menyiapkan langkah balasan jika sanksi tersebut secara signifikan menyasar perusahaan-perusahaan asal Negeri Tirai Bambu.
Peringatan ini disampaikan oleh Kementerian Luar Negeri China melalui juru bicaranya, Wang Wenbin, pada Kamis (23/5/2024). Wang menyatakan bahwa China dengan tegas menentang sanksi sekunder yang melanggar kedaulatan dan kepentingan China, serta berupaya menjaga stabilitas global.
Amerika Serikat diketahui telah mengancam akan memberlakukan sanksi kepada perusahaan-perusahaan yang berbisnis dengan Iran, termasuk yang berasal dari China. Ancaman ini muncul sebagai respons terhadap program nuklir Iran yang terus berkembang dan dugaan dukungan Teheran terhadap kelompok militan di Timur Tengah.
Wang Wenbin menekankan bahwa China selalu berpegang teguh pada prinsip non-intervensi dalam urusan dalam negeri negara lain dan tidak akan membiarkan pihak manapun mengganggu hubungan dagang normal antara China dan Iran. Ia juga menyatakan bahwa China akan mengambil tindakan tegas untuk melindungi hak dan kepentingannya yang sah.
“Jika AS bersikeras untuk memperluas sanksi sekunder dan menyasar perusahaan-perusahaan China, China pasti akan mengambil langkah balasan yang diperlukan untuk melindungi hak dan kepentingannya yang sah,” ujar Wang Wenbin dalam konferensi pers rutin di Beijing.
Sebelumnya, AS telah berulang kali menerapkan sanksi terhadap Iran sejak penarikan diri dari kesepakatan nuklir Iran (JCPOA) pada tahun 2018. Sanksi ini bertujuan untuk menekan ekonomi Iran agar kembali ke meja perundingan. Namun, langkah ini kerap mendapat tentangan dari negara-negara lain, termasuk China dan Rusia, yang menilai sanksi tersebut tidak efektif dan justru merugikan rakyat Iran.
China sendiri memiliki hubungan dagang yang cukup signifikan dengan Iran, terutama dalam sektor energi. Perusahaan-perusahaan China banyak yang berinvestasi dalam proyek-proyek minyak dan gas di Iran, meskipun di bawah bayang-bayang sanksi AS. Upaya AS untuk memperketat sanksi sekunder dikhawatirkan akan mengganggu pasokan energi global dan meningkatkan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Pemerintah China berharap AS dapat mempertimbangkan kembali kebijakannya dan mencari solusi diplomatik untuk menyelesaikan isu nuklir Iran, alih-alih menggunakan pendekatan sanksi yang justru dapat memperburuk situasi.
