Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda dilaporkan mengalami aktivitas vulkanik yang intensif pada Rabu, 25 Agustus 2026. Sejak tengah malam hingga tengah hari, gunung api yang terkenal ini tercatat telah mengalami 42 kali letusan.
Letusan-letusan tersebut bervariasi dalam skala, namun menunjukkan peningkatan aktivitas yang signifikan dari gunung yang pernah memicu bencana dahsyat di masa lalu. Data ini dikumpulkan oleh para pengamat gunung api yang memantau aktivitas Anak Krakatau secara berkala.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melalui pos pengamatan gunung api di Pulau Sebesi melaporkan adanya rentetan aktivitas eksplosif tersebut. Kolom abu dari letusan terpantau mencapai ketinggian sekitar 500 meter di atas puncak gunung.
Tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau saat ini berada pada levelWaspada (Level II). PVMBG mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terpancing isu-isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Namun, masyarakat diminta untuk selalu mematuhi rekomendasi yang dikeluarkan oleh PVMBG.
Rekomendasi tersebut mencakup larangan bagi masyarakat untuk mendekati kawah Gunung Anak Krakatau dalam radius 5 kilometer dari kawah aktif. Jarak aman ini penting untuk mengantisipasi potensi bahaya sekunder seperti lontaran batuan pijar dan aliran gas panas.
Pihak berwenang terus memantau perkembangan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau secara intensif. Keputusan terkait peningkatan status atau perubahan rekomendasi akan disampaikan secara berkala berdasarkan data pemantauan terkini.
