JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto optimistis Indonesia akan mencapai swasembada energi, khususnya dalam hal bahan bakar minyak (BBM), dalam kurun waktu tiga hingga empat tahun ke depan. Target ambisius ini diungkapkan Presiden Prabowo saat menghadiri puncak acara Pekan Nasional (PENAS) Petani dan Nelayan XVII yang diselenggarakan di Kabupaten Gorontalo, pada Rabu, 24 Juni 2026.
"Saya perkirakan 3 tahun lagi, maksimal 4 tahun lagi kita akan swasembada energi. Kita tidak mau impor apa pun untuk BBM kita, untuk energi kita saudara-saudara sekalian," ujar Presiden Prabowo di hadapan para petani dan nelayan yang hadir. Pernyataan ini menggarisbawahi komitmen pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada pasokan energi dari luar negeri, sebuah langkah strategis yang diharapkan dapat memperkuat ketahanan energi nasional dan stabilitas ekonomi.
Langkah konkret menuju swasembada energi ini di antaranya adalah peluncuran program Bahan Bakar Minyak (BBM) baru yang memiliki campuran bahan bakar nabati (biodiesel) sebesar 50% dari minyak kelapa sawit. Produk yang akan dikenal sebagai B50 ini diharapkan menjadi solusi utama untuk mengurangi kebutuhan impor solar.
"Bulan Juli ini berapa hari lagi kita akan launching B50. B50 solar akan kita olah dari kelapa sawit 50 persen. Dengan demikian kita tidak akan impor solar lagi dari luar negeri saudara-saudara sekalian. Dan kita akan menghemat banyak sekali," jelas Presiden Prabowo. Dengan mengoptimalkan potensi sumber daya alam domestik, khususnya kelapa sawit yang melimpah di Indonesia, pemerintah berupaya menciptakan rantai pasok energi yang lebih mandiri dan efisien.
Proyeksi swasembada BBM ini merupakan bagian dari visi besar Indonesia untuk menjadi negara yang mandiri dalam sektor energi. Ketergantungan pada impor BBM selama ini diketahui membebani neraca perdagangan dan membuat Indonesia rentan terhadap fluktuasi harga minyak dunia. Dengan mencapai swasembada, Indonesia tidak hanya akan menghemat devisa negara, tetapi juga memiliki kontrol lebih besar atas pasokan energi domestik, yang krusial bagi kelangsungan berbagai sektor ekonomi, mulai dari transportasi hingga industri.
Pencapaian swasembada energi bukan hanya tentang produksi, tetapi juga mencakup efisiensi dan diversifikasi sumber energi. Pengembangan biodiesel dari kelapa sawit merupakan salah satu strategi diversifikasi yang memanfaatkan potensi perkebunan Indonesia. Selain itu, upaya hilirisasi produk kelapa sawit juga diharapkan dapat meningkatkan nilai tambah bagi petani dan industri dalam negeri.
Implementasi B50 ini diharapkan dapat memberikan dampak positif yang signifikan. Selain mengurangi impor solar, penggunaan biodiesel juga berpotensi mengurangi emisi gas rumah kaca, sejalan dengan komitmen Indonesia dalam upaya mitigasi perubahan iklim. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan energi nasional tidak hanya berfokus pada kemandirian, tetapi juga keberlanjutan lingkungan.
Presiden Prabowo juga menyoroti pentingnya dukungan dari seluruh elemen masyarakat, termasuk para petani dan nelayan, dalam mencapai target swasembada energi ini. Keterlibatan mereka dalam penyediaan bahan baku, seperti kelapa sawit, menjadi kunci keberhasilan program ini. Dengan demikian, swasembada energi tidak hanya menjadi pencapaian pemerintah, tetapi juga merupakan upaya kolektif seluruh bangsa.
Sebelumnya, Indonesia diketahui melakukan impor minyak mentah dan BBM dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan domestik yang terus meningkat. Berdasarkan data, kebutuhan BBM nasional mencapai jutaan barel per hari. Tingginya angka impor ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dalam mengelola ketahanan energi dan stabilitas ekonomi.
Presiden Prabowo Subianto, yang menjabat sejak Oktober 2024, telah berulang kali menekankan pentingnya kemandirian energi sebagai prioritas utama. Berbagai program dan kebijakan telah dirancang untuk mempercepat realisasi visi tersebut. Pengembangan sumber daya energi terbarukan, peningkatan kapasitas produksi minyak dan gas bumi nasional, serta optimalisasi pemanfaatan bahan bakar nabati menjadi agenda penting dalam kabinetnya.
Target swasembada energi ini menjadi penanda penting dalam perjalanan Indonesia menuju kemandirian ekonomi yang lebih kokoh. Jika berhasil dicapai, Indonesia akan menjadi salah satu negara di Asia Tenggara yang mampu memenuhi kebutuhan energinya sendiri, mengurangi kerentanan terhadap gejolak pasar global, dan memperkuat posisi tawar di kancah internasional.
Acara PENAS Petani dan Nelayan XVII sendiri merupakan momentum penting untuk menyelaraskan program pemerintah dengan kebutuhan dan aspirasi para pelaku utama sektor pertanian dan kelautan. Pernyataan Presiden Prabowo mengenai swasembada energi diharapkan dapat memberikan semangat baru dan memotivasi para petani untuk terus meningkatkan produksi, khususnya komoditas yang menjadi bahan baku energi terbarukan.
Di sisi lain, pencapaian target ini juga akan sangat bergantung pada konsistensi kebijakan, investasi yang memadai dalam infrastruktur energi, serta inovasi teknologi. Tantangan seperti fluktuasi harga komoditas kelapa sawit global, isu keberlanjutan perkebunan, dan adaptasi teknologi pengolahan biodiesel juga perlu diantisipasi dan dikelola dengan baik.
Dengan rentang waktu yang relatif singkat, yaitu tiga hingga empat tahun, upaya percepatan dalam segala lini akan menjadi krusial. Kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, akademisi, dan masyarakat menjadi kunci utama untuk mewujudkan prediksi Presiden Prabowo menjadi kenyataan dan menjadikan Indonesia benar-benar berdaulat dalam pemenuhan kebutuhan energinya.











