Artjog 2026: Didit Hediprasetyo Foundation Jawab Tuduhan "Art Washing" dan Kooptasi Politik

Darus H

Keterlibatan Didit Hediprasetyo Foundation (DHF) sebagai salah satu pendukung pameran seni Artjog 2026 memicu gelombang protes dan perdebatan publik. Tuduhan mulai dari praktik "art washing" hingga kooptasi politik terhadap dunia seni dilayangkan oleh berbagai pihak, termasuk seniman dan kolektif seniman. Hal ini bahkan berimbas pada pembatalan kerjasama dengan sejumlah mitra dan seniman.

Merespons polemik yang berkembang, Didit Hediprasetyo Foundation memberikan klarifikasi mendalam mengenai bentuk keterlibatan dan niat di balik dukungannya terhadap Artjog 2026. Tim komunikasi DHF, Boedi Basoeki, dalam jawaban tertulis kepada Tempo pada Selasa, 23 Juni 2026, menjelaskan bahwa DHF dihubungi oleh pihak penyelenggara Artjog untuk memberikan dukungan.

Bentuk dukungan yang diberikan DHF, menurut Boedi, terbatas pada skema sponsorship dalam bentuk pembelian tiket Artjog 2026. "Keterlibatan DHF terbatas pada tahap undangan dukungan sponsorship dalam bentuk pembelian tiket Artjog 2026, sesuai skema kerja sama yang ditawarkan penyelenggara," jelas Boedi. Ia menambahkan bahwa DHF menyetujui dukungan ini dengan harapan dapat membantu ruang-ruang kreatif seperti Artjog terus berkembang dan menjangkau publik yang lebih luas.

Menepis isu adanya kepemilikan saham DHF pada perusahaan penyelenggara Artjog, PT Artjog Matra Nusantara, Boedi menegaskan hal tersebut tidak benar. "Tidak ada kepemilikan saham pada perusahaan tersebut. Dukungan yang diberikan dalam kerangka sponsorship dan tidak terkait dengan kepemilikan saham perusahaan maupun pengambilan keputusan dalam pengelolaan Artjog dari pendiri Didit Hediprasetyo Foundation," tegasnya.

Mengenai besaran pendanaan, Boedi menyatakan bahwa sebagai komitmen DHF terhadap pengembangan seni dan budaya, pembelian tiket tersebut rencananya akan disalurkan kepada mitra dan jejaring mereka agar karya para seniman dapat dinikmati publik yang lebih luas. Namun, terkait rincian nilai dukungan, DHF menghormati kesepakatan serta mekanisme yang berlaku dalam kerja sama tersebut.

DHF juga menegaskan tidak memberikan persyaratan khusus kepada tim Artjog untuk pendanaan yang diberikan. Niat utama mereka adalah mendukung perkembangan seni dan budaya di Yogyakarta dengan memperluas audiens Artjog melalui pemasaran tiket.

Menyikapi beragam pandangan yang muncul dari seniman maupun publik, DHF menghargai setiap kritik dan perbedaan pendapat yang dianggap sebagai bagian penting dari ekosistem seni yang sehat. "Kami mendengarkan masukan yang ada dengan terbuka, dan berharap diskusi ini dapat tetap berjalan secara sehat dan proporsional," ujar Boedi.

Terkait penghapusan nama Didit dan DHF dari poster sehari sebelum pembukaan acara, DHF memandang hal tersebut sebagai wujud penghormatan terhadap ragam pandangan yang berkembang. "Sebagai wujud penghormatan terhadap ragam pandangan yang berkembang dari beberapa pihak, kami memutuskan untuk menanggalkan logo dari materi publikasi Artjog, tanpa mengubah komitmen dukungan kami," ungkap Boedi.

Tuduhan bahwa keterlibatan DHF merupakan praktik "art washing" dibantah dengan menjelaskan fokus yayasan pada pengembangan budaya, pendidikan, dan industri kreatif. Dukungan yang diberikan ditujukan untuk membantu penyelenggaraan festival serta mendukung keberlangsungan ekosistem seni dan menghargai kebebasan berkarya.

Lebih lanjut, Boedi secara tegas membantah tuduhan kooptasi politik melalui pendanaan Artjog. Ia menjelaskan bahwa kerja sama ini terbentuk atas permintaan dukungan dari penyelenggara Artjog karena mereka melihat kesamaan visi dan perhatian terhadap ekosistem seni dan budaya. Peran DHF terbatas pada dukungan finansial, tanpa menyentuh ranah kuratorial, seleksi seniman, narasi pameran, hingga keputusan akhir tampilan karya yang sepenuhnya menjadi kewenangan tim kurator.

"Dukungan DHF berangkat dari niat untuk mendukung ruang seni dan budaya, tanpa intervensi terhadap arah artistik, kuratorial, maupun independensi Artjog," tandas Boedi. Ia menambahkan bahwa mendukung seni berarti turut menjaga ruang tempat gagasan, kreativitas, bahkan kritik dapat tumbuh. DHF percaya ekosistem seni yang sehat lahir dari kolaborasi dan semangat gotong-royong yang tetap menghormati batas, peran, dan independensi masing-masing pihak.

Sebelumnya, keterlibatan Didit Hediprasetyo, putra Presiden Prabowo Subianto, dalam pendanaan Artjog 2026 menjadi sorotan. Poster yang menampilkan nama sponsor sebagai mitra strategis sempat beredar luas di media sosial. Semula, Didit dijadwalkan membuka acara Artjog. Namun, poster tersebut menghilang sehari sebelum pembukaan akibat derasnya protes publik. Didit pun batal hadir pada acara pembukaan yang diselenggarakan di Jogja National Museum pada Jumat, 19 Juni 2026.

Direktur Artjog, Heri Pemad, sebelumnya telah mengakui bahwa yayasan Didit memberikan dukungan finansial, namun menegaskan bahwa yayasan tersebut bukan satu-satunya pendukung Artjog. Peristiwa ini menyoroti sensitivitas dunia seni terhadap pendanaan yang berpotensi memengaruhi independensi dan narasi artistik, serta bagaimana yayasan dan penyelenggara seni berupaya menavigasi isu-isu tersebut di tengah dinamika publik.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All