Pergerakan kapal tanker di Selat Hormuz menunjukkan geliat aktivitas yang signifikan. Dua supertanker besar yang sebelumnya sempat tertahan, bersama tujuh kapal tanker gas alam cair (LNG) kosong milik Qatar, dilaporkan berhasil melintasi jalur perairan strategis ini pada Selasa (23/6). Peristiwa ini terjadi hanya sehari setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai sebuah kesepakatan penting di Swiss, mengindikasikan potensi meredanya ketegangan di kawasan Teluk Persia.
Data pelacakan kapal yang dihimpun oleh LSEG dan Kpler mengkonfirmasi pergerakan sejumlah kapal tersebut. Salah satunya adalah supertanker minyak mentah berukuran sangat besar, Dubai Energy. Kapal yang disewa oleh perusahaan energi Taiwan, CPC, ini berhasil keluar dari Selat Hormuz setelah membawa muatan sekitar 2 juta barel minyak mentah dari Abu Dhabi dan Arab Saudi. Dubai Energy kini dilaporkan sedang dalam perjalanan menuju pelabuhan Kaohsiung di Taiwan.
Keberhasilan Dubai Energy diikuti oleh VLCC (Very Large Crude Carrier) lainnya, Universal Glory. Kapal tanker ini, yang disewa oleh perusahaan penyulingan minyak Korea Selatan, GS Caltex, juga berhasil keluar dari selat tersebut pada hari yang sama. Universal Glory mengangkut muatan yang setara, yakni 2 juta barel minyak mentah dari Arab Saudi.
Selain itu, dua kapal tanker jenis Suezmax, Sobar dan Sarak, terpantau sedang dalam perjalanan menuju Selat Hormuz pada Selasa tersebut. Masing-masing kapal ini memiliki kapasitas angkut yang cukup besar, mampu membawa sekitar 1 juta barel minyak mentah. Kehadiran kapal-kapal tanker minyak mentah ini menjadi indikator pemulihan aktivitas pasokan energi global.
Perhatian khusus juga tertuju pada tujuh kapal tanker LNG yang dioperasikan oleh QatarEnergy. Kapal-kapal tanpa muatan ini dilaporkan bergerak ke arah barat menuju Teluk untuk melakukan pengisian ulang muatan. Pergerakan ini merupakan yang pertama kali tercatat sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran pada 28 Februari. Aktivitas kapal tanker LNG Qatar ini menandai perubahan signifikan pasca insiden yang sempat meningkatkan kekhawatiran di jalur pelayaran energi.
Menurut laporan dari Vortexa, tiga kapal tanker pertama yang teridentifikasi, yaitu Al Hamla, Al Areesh, dan Al Khuwair, diketahui mematikan sistem pelacakan mereka saat memasuki Selat Hormuz. Data Kpler menunjukkan bahwa ketiga kapal ini terakhir terlihat di luar selat pada pertengahan Juni sebelum muncul kembali dalam data pelacakan kapal antara tanggal 19 hingga 23 Juni.
Empat kapal tanker LNG kosong lainnya, yakni Wadi Al Sail, Mekaines, Al Sadd, dan Mesaimeer, dilaporkan memasuki Selat Hormuz pada Senin. Volume tujuh kapal tanker LNG kosong yang melintasi Selat Hormuz ini merupakan yang terbesar sejak dimulainya perang, menunjukkan bahwa kapal-kapal tanker LNG kosong lainnya juga sedang dalam perjalanan menuju Qatar.
Analis dari Commonwealth Bank of Australia, Vivek Dhar, seperti dikutip Reuters, menyatakan bahwa data pelacakan kapal ini memperkuat harapan bahwa QatarEnergy akan mampu memenuhi jadwal peningkatan produksi LNG mereka. Pemulihan aktivitas pengiriman LNG dari Qatar ini menjadi krusial bagi pasokan energi global, terutama bagi negara-negara yang bergantung pada sumber daya tersebut.
Kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran di Swiss menjadi latar belakang penting bagi normalisasi aktivitas pelayaran di Selat Hormuz. Meskipun detail perjanjian tersebut belum sepenuhnya diungkapkan kepada publik, indikasi perbaikan hubungan dan penurunan ketegangan politik tampaknya mulai membuahkan hasil nyata di lapangan. Selat Hormuz sendiri merupakan salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia, melintasi sekitar 30% dari total minyak yang diperdagangkan di laut. Setiap gangguan di jalur ini dapat berdampak signifikan terhadap stabilitas harga energi global.
Pergerakan kapal tanker yang kembali normal ini diharapkan dapat memberikan sinyal positif bagi pasar energi internasional. Ketersediaan pasokan minyak mentah dan gas alam cair yang stabil dari Timur Tengah akan berkontribusi pada mitigasi potensi lonjakan harga yang disebabkan oleh ketidakpastian geopolitik. Selain itu, ini juga menunjukkan bahwa upaya diplomasi dan negosiasi dapat memainkan peran penting dalam menjaga kelancaran arus perdagangan global, terutama di kawasan yang memiliki signifikansi strategis tinggi seperti Teluk Persia.











