Warga Jakarta Bersaksi: Ajak-Ajakan hingga Iming-Iming Ikut Demo Dukung Program Makan Bergizi Gratis

Darus H

Ribuan warga Jakarta yang menamakan diri Aliansi Masyarakat Jakarta memadati kawasan selatan Monumen Nasional, Jakarta, pada Senin, 22 Juni 2026. Mereka menggelar aksi unjuk rasa untuk menunjukkan dukungan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG). Di tengah kerumunan yang didominasi pakaian putih-putih, sejumlah peserta aksi menceritakan bagaimana mereka akhirnya turut serta dalam demonstrasi tersebut, membuka tabir berbagai modus perekrutan massa.

Bunga, seorang ibu rumah tangga asal Cempaka Putih, Jakarta Pusat, mengaku mendapatkan ajakan untuk berdemo pada malam sebelum aksi dilaksanakan. "Teman saya yang ajak demo tadi malam," ujarnya saat berada di lokasi unjuk rasa. Keputusannya untuk ikut didorong oleh pengalaman pribadinya yang memiliki seorang anak yang saat ini bersekolah dan telah merasakan manfaat program MBG. Bagi Bunga, demonstrasi ini merupakan bentuk dukungannya terhadap salah satu program unggulan Presiden Prabowo Subianto tersebut.

Perjalanan Bunga menuju titik aksi dilakukan dengan menggunakan sepeda motor dari kediamannya. Sesampainya di Monas, ia mengamati bahwa para demonstran diorganisir dalam beberapa kelompok, masing-masing memiliki koordinator. Meskipun ia tidak mengenal ketua timnya, Bunga justru berkesempatan berkenalan dengan sesama peserta aksi yang tergabung dalam kelompoknya. Salah satunya adalah Yaya, seorang siswa kelas XII asal Jakarta Utara, yang juga mengaku diajak oleh seorang teman. Keduanya, yang tidak saling mengenal sebelumnya, baru bertemu saat berada dalam satu kelompok dalam aksi yang mengatasnamakan dukungan MBG.

Aksi yang dimulai sejak siang hari itu tampak berlangsung tertib. Massa mengenakan pakaian seragam berwarna putih, menambah kesan kesatuan dalam demonstrasi tersebut. Menjelang sore, sebagian besar peserta aksi mulai membubarkan diri. Namun, tidak semua langsung meninggalkan area Monas. Beberapa kelompok terlihat masih berkumpul, duduk berdiskusi di pinggir Jalan Medan Merdeka Selatan, lokasi utama aksi.

Di antara mereka yang masih bertahan adalah Margi, seorang pria asal Jakarta Utara. Ia mengaku sedang menunggu pembagian uang. "Saya dapat gocap (Rp 50 ribu)," tuturnya. Margi mengungkapkan bahwa ini adalah pengalaman pertamanya mengikuti demonstrasi. Ia diajak oleh seseorang yang baru dikenalnya saat berada di gereja pada Minggu petang, sehari sebelum aksi. Orang yang dikenalnya sebagai inisial F, yang baru pertama kali terlihat di gereja, mendekatinya dan menawarkan untuk ikut demo dengan iming-iming uang sebesar Rp 80 ribu.

Namun, sesampainya di lokasi, orang yang mengajaknya tersebut tidak dapat dihubungi. Margi akhirnya mencari koordinator kelompok lain dan berhasil mendapatkan uang saku sebesar Rp 50 ribu yang diberikan secara tunai tanpa amplop. Kisah Margi menunjukkan adanya upaya rekrutmen yang dilakukan secara personal, bahkan di tempat ibadah.

Besaran uang saku yang diterima oleh para demonstran ternyata bervariasi. Seorang demonstran perempuan asal Jakarta Selatan yang enggan disebutkan namanya, mengaku menerima Rp 60 ribu, padahal ia dijanjikan Rp 100 ribu. Ia mengungkapkan kekecewaannya terhadap pembagian uang yang dianggap tidak adil, bahkan melontarkan istilah "jebakan Batman". Perempuan paruh baya yang datang sendirian ini mengaku awalnya dijanjikan imbalan yang lebih besar.

Tidak semua peserta aksi mengaku mendapatkan uang saku. Andir, seorang pria berusia 45 tahun asal Kebon Jeruk, Jakarta Barat, misalnya. Ia mendapatkan informasi mengenai demo tersebut melalui aplikasi pesan instan pada malam sebelumnya. Bersama istri dan anaknya yang berusia tujuh tahun, ia memutuskan untuk hadir, menganggapnya sebagai pengalaman baru. "Hitung-hitung kita cari pengalaman saja," katanya.

Andir menegaskan bahwa tidak ada uang saku yang ia terima. "Enggak ada, cuma ikut-ikutan saja. Tetangga juga paling kasih tahu doang, ada informasi demo MBG di Monas. Ya mau enggak mau ikut serta lah. Transportasi juga modal sendiri," jelasnya. Pengalamannya mencerminkan adanya partisipasi warga yang datang atas dasar informasi dari lingkungan terdekat tanpa imbalan finansial.

Di sisi lain, para pegawai dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) juga turut serta dalam demonstrasi tersebut. Salah satu rombongan berasal dari SPPG Jatinegara 02, Jakarta Timur. Mai Aldi, asisten lapangan dapur tersebut, menyatakan bahwa seluruh 47 pegawainya hadir dalam aksi tersebut. Ia menekankan bahwa kehadiran mereka murni atas inisiatif sendiri.

Para pegawai SPPG bahkan melakukan patungan untuk membiayai kebutuhan aksi, mulai dari konsumsi, pembuatan poster, hingga keperluan lainnya. "Kebetulan dari kami ada inisiatif patungan relawan, yaitu kami minta satu orang Rp 20 ribu," ungkap Aldi. Ia juga menegaskan bahwa tidak ada instruksi dari yayasan pemilik dapur maupun pengelola program agar mereka ikut demo.

Kekhawatiran para pegawai SPPG muncul sejak terungkapnya kasus dugaan korupsi di Badan Gizi Nasional (BGN), lembaga yang menjadi pelaksana program MBG. "Ini inisiatif murni," tegas Aldi, menunjukkan bahwa partisipasi mereka didorong oleh kepedulian terhadap kelangsungan program.

Menanggapi isu adanya massa bayaran, Koordinator Aliansi Masyarakat Jakarta, Edy Marzuki, membantah keras tudingan tersebut. Ia menyatakan bahwa warga datang atas inisiatif sendiri dan menantang siapapun yang memiliki bukti massa bayaran untuk membawanya ke hadapan publik. "Saya nyatakan itu bohong. Jika ada, bawa ke depan saya. Siapa orangnya? Itu hanya segelintir orang yang ingin mengotori aksi ini," ujarnya dengan tegas di lokasi aksi. Pernyataannya menegaskan klaim bahwa aksi tersebut merupakan aspirasi murni dari masyarakat yang peduli terhadap program MBG.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All