Sebuah metode meredakan kecemasan dengan mengompres es di area ketiak tengah menjadi sorotan dan viral di berbagai platform media sosial. Namun, benarkah praktik ini memiliki dasar ilmiah dan terbukti secara medis efektif dalam menangani kondisi kecemasan?
Menjawab rasa penasaran publik, sejumlah psikiater memberikan pandangannya mengenai tren yang tengah marak ini. Secara umum, mereka sepakat bahwa kompres es pada ketiak dapat memberikan sensasi dingin yang sementara waktu mengalihkan perhatian dari perasaan cemas.
Dr. Andri, Sp.KJ, seorang psikiater dari Rumah Sakit Pondok Indah, menjelaskan bahwa sensasi dingin yang intens dapat memicu respons fisiologis dalam tubuh. “Saat kita merasakan suhu yang sangat dingin, tubuh akan merespons dengan cara yang mungkin bisa mengalihkan fokus dari pikiran yang menimbulkan kecemasan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Dr. Andri menambahkan bahwa efek ini bersifat sementara dan lebih kepada mekanisme pengalihan perhatian atau grounding. “Ini bukan pengobatan akar masalah kecemasan, melainkan sebuah teknik yang bisa membantu seseorang untuk kembali ke momen saat ini ketika sedang dilanda kepanikan atau kecemasan yang hebat,” jelasnya.
Senada dengan Dr. Andri, Psikiater Konsultan dari Universitas Indonesia, Dr. Irma, Sp.KJ(K), menyatakan bahwa sensasi dingin dapat merangsang saraf vagus. Saraf vagus berperan dalam mengatur respons stres tubuh, dan stimulasi dingin pada area tertentu seperti ketiak atau leher dapat membantu menenangkan sistem saraf otonom.
“Stimulasi dingin, terutama pada area yang kaya akan pembuluh darah seperti ketiak, dapat memicu respons parasimpatis. Ini adalah bagian dari sistem saraf yang bertanggung jawab untuk ‘istirahat dan mencerna’, yang berlawanan dengan respons ‘lawan atau lari’ yang sering aktif saat cemas,” terang Dr. Irma.
Meskipun demikian, kedua psikiater tersebut menekankan pentingnya pendekatan yang lebih komprehensif dalam penanganan kecemasan. Kompres es ketiak, menurut mereka, sebaiknya dilihat sebagai salah satu alat bantu tambahan dan bukan sebagai solusi tunggal. Pendekatan yang lebih mendalam seperti terapi psikologis (misalnya Cognitive Behavioral Therapy/CBT), konseling, atau dalam beberapa kasus, penggunaan obat-obatan yang diresepkan oleh profesional medis, tetap menjadi pilar utama dalam penanganan gangguan kecemasan.
Dr. Andri mengingatkan, “Penting untuk diingat bahwa kecemasan adalah kondisi yang kompleks. Mengandalkan satu metode saja, meskipun terkesan unik seperti kompres es ini, mungkin tidak akan memberikan hasil jangka panjang yang signifikan.” Ia menyarankan agar individu yang mengalami kecemasan secara persisten untuk berkonsultasi dengan profesional kesehatan mental.
Sementara itu, Dr. Irma menambahkan, “Jika metode ini membantu seseorang merasa sedikit lebih tenang dalam situasi darurat, itu bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat. Namun, jangan sampai ini menggantikan kebutuhan untuk mencari bantuan profesional jika kecemasan tersebut sudah mengganggu kualitas hidup sehari-hari.” Ia menyarankan agar tren ini tidak disalahartikan sebagai pengganti intervensi medis yang terbukti efektif.
