Presiden Prabowo Subianto telah menetapkan sejumlah asumsi makroekonomi kunci untuk Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) Tahun Anggaran 2027. Salah satu target utama adalah nilai tukar rupiah yang dipatok di kisaran Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (USD).
Target pertumbuhan ekonomi Indonesia dalam RAPBN 2027 juga diproyeksikan mencapai 6%. Angka ini menjadi penanda ambisi pemerintah dalam mendorong kinerja perekonomian nasional di tahun mendatang.
Selain itu, RAPBN 2027 turut memuat asumsi terkait laju inflasi yang ditargetkan sebesar 2,5%. Angka ini menunjukkan upaya pemerintah untuk menjaga stabilitas harga barang dan jasa.
Asumsi lain yang dirinci dalam RAPBN 2027 mencakup suku bunga Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun yang dipatok pada level 6,7%. Sementara itu, harga minyak mentah Indonesia (ICP) diproyeksikan berada di angka 80 dolar AS per barel.
Dalam dokumen tersebut, pemerintah juga menetapkan asumsi mengenai lifting minyak bumi sebesar 737.000 barel per hari dan lifting gas bumi sebesar 6,5 juta barel setara minyak per hari. Angka-angka ini menjadi dasar perhitungan pendapatan negara dari sektor energi.
Pemerintah juga memperhitungkan proyeksi defisit anggaran yang ditargetkan sebesar 2,28% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Besaran defisit ini akan menjadi acuan dalam pengelolaan keuangan negara.
Asumsi-asumsi makroekonomi ini merupakan kerangka dasar dalam penyusunan RAPBN 2027, yang akan menjadi pedoman pemerintah dalam mengalokasikan anggaran untuk berbagai program dan kegiatan pembangunan.
