JAKARTA – Sektor industri panel surya di Indonesia menghadapi ironi: kekayaan sumber daya alam untuk bahan baku tak serta-merta menepis ketergantungan pada impor komponen. Situasi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara potensi bahan mentah dengan kemampuan produksi komponen hilir yang masih terhambat.
Ketergantungan pada impor komponen panel surya ini menjadi sorotan, mengingat Indonesia memiliki cadangan mineral yang melimpah, seperti silika, yang merupakan unsur utama dalam pembuatan silikon untuk panel surya. Namun, alih-alih memproduksi komponen tersebut di dalam negeri, industri justru masih memilih untuk mengimpornya dari luar negeri.
Direktur Jenderal Industri Kimia, Tekstil, dan Aneka (IKTA) Kementerian Perindustrian, Ignatius Warsito, mengungkapkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam hal bahan baku. “Kita punya silika, kita punya nikel, kita punya bauksit, itu semua bahan baku utama,” ujarnya dalam sebuah kesempatan.
Namun, Warsito mengakui bahwa tantangan terbesar terletak pada pengolahan bahan baku tersebut menjadi komponen yang siap pakai dalam industri panel surya. Proses pemurnian silika menjadi silikon tingkat semikonduktor, misalnya, memerlukan teknologi dan investasi yang tidak sedikit.
“Kita punya silika, tapi untuk menjadi silikon tingkat semikonduktor itu kan perlu teknologi yang canggih. Itu yang belum kita miliki secara masif,” jelas Warsito. Ketiadaan teknologi pengolahan yang memadai inilah yang mendorong industri untuk tetap mengimpor komponen seperti sel surya dan modul panel surya.
Kondisi ini tentu saja berdampak pada daya saing industri panel surya nasional. Biaya produksi yang lebih tinggi akibat komponen impor berpotensi membuat harga panel surya buatan Indonesia kurang kompetitif dibandingkan produk impor, meskipun bahan bakunya tersedia di dalam negeri.
Untuk mengatasi hal ini, pemerintah melalui Kementerian Perindustrian terus berupaya mendorong pengembangan industri hilir. Salah satunya adalah dengan mendorong investasi pada teknologi pengolahan bahan baku. “Tentu saja kita mendorong agar ada investasi di industri hilir ini, bagaimana silika itu bisa diolah menjadi silikon,” tambahnya.
Selain itu, kolaborasi antara akademisi, industri, dan pemerintah juga dinilai krusial untuk mempercepat transfer teknologi dan pengembangan riset. Dengan demikian, Indonesia diharapkan dapat mengurangi ketergantungan impor dan memaksimalkan potensi sumber daya alamnya untuk kemajuan industri panel surya nasional.
