Orang Tua Berjaga di Luar Kampus UTBK 2026: Bentuk Nyata Dukungan Mental untuk Anak

Muzairi M

Suasana tegang namun penuh harapan mewarnai pelaksanaan Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK) 2026 yang berlangsung serentak pada 21 hingga 30 April. Di tengah riuhnya para calon mahasiswa yang berjuang meraih kursi di perguruan tinggi impian, kehadiran orang tua menjadi pemandangan yang tak terpisahkan. Mereka rela mengorbankan waktu dan tenaga, menunggu berjam-jam di luar lokasi ujian, memberikan dukungan moral dan mental yang krusial bagi putra-putri mereka.

Pantauan Kompas.com di dua pusat UTBK, Universitas Indonesia (UI) di Depok dan Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ) di Jakarta Selatan pada Kamis (23/4/2026), menunjukkan puluhan orang tua yang setia mendampingi. Mereka tidak hanya mengantar, tetapi juga sabar menunggu hingga anak-anak mereka menyelesaikan seluruh rangkaian ujian. Kehadiran fisik ini menjadi jangkar emosional yang tak ternilai bagi para peserta.

Irma (49), salah satu orang tua yang ditemui di UI, menjelaskan bahwa kehadirannya bersama sang suami, Nahar (57), bertujuan untuk memberikan suntikan semangat. "Kehadiran kami untuk memberikan semangat, biar dia lebih percaya diri. Jadi anak tidak down pada saat mengerjakan, dan lebih tenang karena ada orang tuanya yang menunggu," ujar Irma. Ia dan suaminya bahkan rela mengambil cuti setengah hari dari pekerjaan demi mendampingi putri mereka, Bilqis, yang bercita-cita masuk jurusan Psikologi UI. Bilqis sendiri diketahui belajar mandiri dengan tekun demi mewujudkan impiannya.

Dukungan moral dari orang tua terbukti mampu meredakan kecemasan berlebih yang kerap menghantui peserta ujian. Hairul (55), misalnya, mengabaikan rasa lelah setelah bekerja malam demi memenuhi permintaan anak bungsunya, Alfira, yang mengincar jurusan Manajemen di Universitas Negeri Jakarta (UNJ). "Kalau tidak ditungguin, dia bingung juga nantinya, pulangnya dengan siapa atau bagaimana. Jadi tidak ada dua cabang pikiran, dia bisa konsentrasi penuh dengan tesnya," tutur Hairul di UI.

Bagi Hairul, mendampingi ujian sang anak bukan sekadar kewajiban, melainkan sebuah momen kebanggaan tersendiri. Ia merasa dihargai karena dilibatkan langsung dalam penentu langkah awal masa depan putrinya. "Bahagianya ya dia mau dia ujian dan mau menuju cita-citanya. Saya tentu sangat bangga diminta menemani," tambah Hairul.

Untuk menjaga ketenangan anaknya sepulang ujian, Irma dan suaminya telah menyiapkan strategi khusus. Mereka sepakat untuk menahan diri dari rasa ingin tahu mengenai soal-soal yang telah dikerjakan. "Biar dia tidak tambah stres. Kita kasih minuman dan makanan yang enak dulu supaya tenang," jelas Irma, menunjukkan perhatiannya pada kesejahteraan emosional sang anak pasca-ujian.

Pengorbanan Jarak dan Waktu demi Ketenangan Anak

Tak sedikit orang tua yang rela menempuh perjalanan lintas kota demi memastikan sang anak tiba di lokasi ujian dengan selamat dan dalam kondisi tenang. Yudin (50) sengaja mengambil cuti dan mengemudikan mobil dari Cengkareng, Jakarta Barat, menuju Depok. Tujuannya agar putri tercintanya, Adelita, dapat fokus mengejar kursi Manajemen di Universitas Lampung (Unila) atau Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) tanpa dihantui kekhawatiran.

"Saya khawatir kalau dia ke sini sendiri karena lumayan jauh jaraknya (dari rumah). Saya kasih dukungan supaya dia percaya diri," ungkap Yudin di UI. Ia mengaku terharu melihat dedikasi Adelita yang kerap begadang dan bangun malam untuk salat tahajud demi belajar. Yudin ingin memastikan sang anak tahu bahwa segala usahanya telah dihargai, terlepas dari hasil akhir ujian. "Walaupun hasilnya nanti seperti apa, kita terima saja. Yang penting kita sudah usaha benar-benar serius," imbuhnya.

Perjuangan serupa dilakukan Devi (40) yang mendampingi putrinya, Aisyah, dari Kota Bekasi menuju lokasi tes di UPNVJ. Aisyah berjuang untuk masuk jurusan Sastra Inggris dan Bahasa Korea di UI, serta UNJ. "Karena jaraknya jauh juga, kalau anak butuh apa-apa kita bisa langsung tahu dan bantu," kata Devi di UPNVJ, menekankan pentingnya kehadiran orang tua untuk respons cepat terhadap kebutuhan anak.

Menanamkan Ketenangan Mental dan Ikhlas Menghadapi Hasil

Bagi sebagian ibu, kehadiran mereka di luar gedung ujian sudah cukup untuk menetralkan ketegangan anak. Endah (41), ibu dari Zahra yang memilih Psikologi UI dan Hukum Universitas Padjadjaran (Unpad), sengaja hadir agar putrinya tidak tergesa-gesa saat berhadapan dengan layar komputer. "Saya berharap dia bisa menjawab dengan tenang, tidak terburu-buru. Memahami pertanyaan itu bagian dari jawaban," ucap Endah di UPNVJ.

Selain ketenangan teknis, Endah juga berupaya menanamkan ketenangan batin agar Zahra lebih ikhlas menghadapi hasil seleksi kelak. Ia mengingatkan pentingnya berserah diri kepada Tuhan. "Segala sesuatu yang kita inginkan belum tentu sesuai kehendak Tuhan. Hasil itu biar nanti menjadi urusan yang di Atas, yang penting kamu berusaha," tutur Endah, mengajarkan nilai penerimaan dan ikhtiar.

Di sisi lain, Uti (45) yang mengantar putra laki-lakinya, Nadif, mengikuti seleksi Teknik Elektro Universitas Diponegoro (Undip) dan Politeknik Negeri Jakarta (PNJ), memandang momen ini sebagai gerbang awal kedewasaan. Baginya, ujian bukan sekadar mencari nilai, melainkan latihan penting dalam menghadapi tekanan hidup. "Biar anak merasakan ada deg-degannya, ada senangnya. Setiap proses hidup harus dijalani," pungkas Uti di UPNVJ, menggarisbawahi nilai pembelajaran hidup dari setiap tahapan.

Kehadiran orang tua di lokasi UTBK 2026 ini menjadi bukti nyata bahwa dukungan emosional dan mental merupakan komponen penting dalam perjalanan pendidikan seorang anak. Di tengah persaingan ketat masuk perguruan tinggi, pelukan hangat dan kehadiran yang menenangkan dari orang tua dapat menjadi sumber kekuatan terbesar bagi para peserta ujian.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All