MILAN – Di tengah gemuruh teriakan penggemar K-Pop yang memadati area sekitar Villa Necchi Campiglio, Milan, jenama mewah Italia, Tod’s, justru memilih untuk membisikkan kembali esensi sejati gaya hidup Italia melalui koleksi terbarunya. Peragaan busana pria untuk musim panas 2027 ini menjadi panggung di mana kemewahan yang tenang dan keahlian tangan klasik bersanding dengan fenomena budaya global yang riuh.
Penyanyi Han Ji-sung dari grup Stray Kids menjadi salah satu magnet perhatian di luar lokasi acara. Kerumunan penggemarnya yang antusias menciptakan kontras yang mencolok dengan suasana elegan yang tertata di dalam villa bersejarah tersebut. Di dalam, Han tampak hadir bersama Diego Della Valle, Chairman Tod’s, yang telah mentransformasi perusahaan barang kulit regional menjadi ikon kemewahan Italia yang mendunia.
Della Valle, dengan pengalamannya selama puluhan tahun, tidak pernah menjual sekadar produk. Ia menawarkan sebuah narasi tentang Italia: keanggunan yang tidak perlu dipamerkan, kemewahan yang tidak norak, dan keyakinan bahwa kualitas material serta ketelitian pengerjaan berbicara lebih lantang daripada sekadar logo. Kehadiran Han, seorang idola pop global, di samping Della Valle menjadi sinyal kuat Tod’s dalam upaya menjangkau audiens yang lebih muda, lebih pop, dan sangat terhubung dengan dunia digital, sambil tetap setia pada akar mereka.
Villa Necchi Campiglio sendiri, dengan arsitektur rasionalisnya yang disiplin, ketenangan aristokratik, dan koleksi seni yang kaya, menjadi latar yang sempurna bagi koleksi bertajuk ‘The Italian Wardrobe’. Matteo Tamburini, Direktur Kreatif Tod’s, tidak berusaha menciptakan arketipe pria baru, melainkan menyempurnakan citra pria Italia yang menghargai kelembutan di atas kesombongan, kualitas material di atas agresi visual, dan keanggunan yang terkesan alami.
Inti dari koleksi ini adalah proyek Pashmy, inovasi terbaru Tod’s dalam mengolah kulit menjadi material yang sangat taktil. Jenama ini menyebutnya sebagai puncak keahlian mereka dalam riset dan seleksi material. Kulit Pashmy memiliki ketebalan hanya 0,3 milimeter, sebuah terobosan yang menantang persepsi umum mengenai kulit yang cenderung berat. Tod’s menyamakannya dengan pashmina, menciptakan material yang dirancang untuk bergerak dengan luwes, seolah selembar kain.
Produk unggulan seperti Brera bomber, hadir dalam palet warna netral hangat, menawarkan siluet yang akrab namun dibuat dari kulit yang luar biasa ringan. Castello jacket, sebuah blazer lembut dengan kantong tempel, memberikan alternatif yang lebih santai dari pakaian formal pria. Sementara itu, Solferino shirt seolah menjadi manifestasi ide Pashmy, menciptakan ilusi batas yang kabur antara kemeja dan kulit kedua yang melekat di tubuh.
Koleksi ini tidak menawarkan kejutan radikal dalam siluet atau warna. Daya tariknya justru terletak pada cara Tod’s menghadirkan kembali sesuatu yang familiar menjadi sebuah kemewahan yang diangkat. Keteguhan Tod’s pada elevasi yang tenang terus menjadi proposisi utamanya. "Kualitas. Craftsmanship," ujar Della Valle singkat saat presentasi, sebuah jawaban yang terdengar anti-klimaks di tengah industri barang mewah yang gemar bercerita. Namun, justru di sinilah letak kekuatan Tod’s.
Sebelum grup ini melakukan delisting dari bursa saham Milan pada tahun 2024, Della Valle pernah menegaskan keyakinannya pada posisi mereknya. Ia menyatakan kepuasan atas pertumbuhan pendapatan dua digit di semua jenama di bawah naungan Tod’s Group, bahkan dalam konteks makroekonomi yang sulit. "Hasil yang sangat baik untuk jenama Tod’s, yang semakin dihargai karena gayanya yang halus dan modern, sebuah ekspresi dari keahlian luar biasa dari Made in Italy; produk-produk ikoniknya semakin dicintai oleh semakin banyak pelanggan dari semua kelompok usia secara internasional," ungkapnya kala itu.
Koleksi musim panas 2027 ini membuktikan bahwa Tod’s tidak perlu menjadi lebih bising, lebih mengikuti tren, atau lebih ‘modis’ dalam pengertian konvensional untuk tetap relevan. Justru dengan semakin menjadi dirinya sendiri, Tod’s memperkuat posisinya.
Sebagai demonstrasi nyata dari komitmennya pada keahlian, Tod’s membawa para perajin dari atelier mereka di Marche, jantung industri kulit Italia, ke Villa Necchi. Para tamu undangan dapat menyaksikan secara langsung proses pemilihan kulit, pemotongan, hingga perakitan oleh tangan-tangan terampil yang selama ini hanya hadir sebagai abstraksi dalam narasi pemasaran mewah.
Palet warna koleksi ini—rona beige, cocoa, ochre, yang sesekali diselingi Riviera blue dan pearl grey—dipilih bukan untuk menarik perhatian, melainkan untuk menenangkan, membiarkan material berbicara. Aksesori yang ditampilkan, seperti Red Dot sneaker yang diposisikan sebagai ikon baru, berusaha menerjemahkan nilai Tod’s ke dalam produk urban kontemporer: kemewahan sebagai kelembutan, keringanan, dan fungsionalitas. Gommino, sebagai pengingat kesuksesan terbesar jenama ini, kembali hadir, menegaskan kemampuannya menciptakan kesan kasual yang aristokratik melalui loafer ultra-ringan yang nyaris ambruk saking lembutnya.
Apa yang dipresentasikan Tod’s di Milan bukanlah menswear yang radikal, melainkan sesuatu yang lebih sulit dicapai: sebuah bahasa yang koheren dalam menghadapi kebisingan yang sering mendominasi industri mode. Di luar, para penggemar K-Pop berteriak histeris. Sementara di dalam, Tod’s dengan tenang menampilkan kemewahan yang berakar pada tangan, kulit, dan kesabaran untuk menyempurnakan detail yang nyaris tak terlihat. Di sinilah, bisikan kemewahan Italia tetap terdengar lantang, bahkan di tengah riuhnya Milan.











