Pemerintah Kota Pontianak mengambil langkah tegas dengan menghentikan sementara pembelajaran tatap muka bagi siswa jenjang Taman Kanak-kanak (TK) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP). Keputusan ini diambil menyusul dampak serius kabut asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang kian memburuk. Akibatnya, seluruh kegiatan belajar mengajar kini dialihkan menjadi sistem daring.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pontianak, Zulkifli, dalam keterangan resminya pada Kamis, 12 September 2024, menyatakan bahwa kebijakan ini bertujuan untuk melindungi kesehatan para siswa. “Keputusan ini diambil berdasarkan rekomendasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan mempertimbangkan tingkat kekebalan tubuh anak yang masih rentan,” ujar Zulkifli.
Selain mengalihkan metode belajar, peningkatan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) menjadi salah satu faktor krusial di balik keputusan ini. Data dari Dinas Kesehatan Kota Pontianak mencatat adanya lonjakan signifikan kasus ISPA di kalangan anak-anak dalam beberapa waktu terakhir. “Kami mendata ada peningkatan kasus ISPA yang cukup signifikan, terutama pada anak-anak usia sekolah,” ungkap Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, dr. Sidiq Handanu. Beliau menambahkan bahwa kualitas udara yang buruk secara langsung berkontribusi pada memburuknya kondisi kesehatan pernapasan.
Langkah penyesuaian ini diharapkan dapat meminimalkan paparan asap terhadap siswa dan mencegah penyebaran penyakit pernapasan lebih lanjut. Pihak sekolah dan orang tua diminta untuk terus memantau perkembangan informasi dari pemerintah terkait kapan pembelajaran tatap muka dapat kembali dilaksanakan secara normal.
