Kawasan Gunung Bromo di Jawa Timur dilanda kebakaran hutan dan lahan yang terus meluas. Hingga kini, api telah menghanguskan area seluas 550 hektare, dengan laporan yang mengkhawatirkan bahwa lidah api semakin mendekati permukiman warga.
Luasnya area yang terbakar menunjukkan skala darurat yang dihadapi. Upaya pemadaman terus dilakukan oleh berbagai pihak, namun medan yang sulit dan kondisi cuaca menjadi tantangan tersendiri.
Menurut keterangan dari Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Probolinggo, Dwi Supriadi, pada Selasa (19/9/2023), api pertama kali muncul di area Lembah Watangan atau Bukit Teletubbies. Titik awal api ini kemudian merambat dengan cepat, dipicu oleh angin kencang dan vegetasi kering yang mudah terbakar.
Dampak dari kebakaran ini tidak hanya terbatas pada kerusakan alam. Kekhawatiran terbesar saat ini adalah potensi jilatan api yang mendekati kawasan permukiman. BPBD Kabupaten Probolinggo melaporkan bahwa api sudah berada di sekitar 100 meter dari pemukiman warga di Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura. Situasi ini memaksa petugas untuk meningkatkan kewaspadaan dan melakukan langkah mitigasi.
“Kami mengerahkan tim gabungan dari BPBD, TNI, Polri, dan relawan untuk memadamkan api. Kami juga terus memantau pergerakan api, terutama yang mengarah ke permukiman,” ujar Dwi Supriadi. Ia menambahkan bahwa fokus utama saat ini adalah melindungi warga dan aset mereka dari jangkauan api.
Selain di Probolinggo, kebakaran juga terjadi di wilayah lain di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Di Kabupaten Malang, api melahap lahan seluas 30 hektare di kawasan Gunung Semeru, tepatnya di Blok Savana Lembah Watangan. Kebakaran di Semeru ini juga menimbulkan kekhawatiran akan dampaknya terhadap ekosistem dan keberadaan flora fauna.
Pihak TNBTS sendiri telah mengeluarkan surat edaran penutupan sementara seluruh jalur pendakian Gunung Bromo sejak tanggal 13 September 2023. Langkah ini diambil untuk mengantisipasi meluasnya api dan demi keselamatan para pendaki serta masyarakat yang beraktivitas di sekitar kawasan.
Penyebab kebakaran di kedua lokasi masih dalam penyelidikan. Namun, dugaan awal mengarah pada aktivitas yang tidak bertanggung jawab dari pengunjung. Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk tidak menyalakan api sembarangan di area hutan dan lahan kering, terutama di musim kemarau seperti saat ini.
