Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Kali ini, sedikitnya 176 hektare lahan di Gunung Bromo dilaporkan hangus dilalap api. Pihak TNBTS menduga kuat bahwa penyebab kebakaran ini bukan berasal dari faktor alam, melainkan aktivitas manusia.
Kepala Balai Besar TNBTS, Septi Eka Prihartanto, menyatakan bahwa berdasarkan temuan awal di lapangan, api diperkirakan dipicu oleh kelalaian manusia. “Berdasarkan temuan kami di lapangan, penyebab karhutla di Gunung Bromo ini diduga kuat akibat aktivitas manusia,” ujar Septi saat dikonfirmasi pada Kamis (7/9/2023).
Meskipun demikian, Septi menegaskan bahwa pihaknya masih terus melakukan penyelidikan lebih lanjut untuk memastikan penyebab pasti kebakaran tersebut. “Kami masih melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab pastinya,” tambahnya.
Peristiwa kebakaran ini terjadi di wilayah Gunung Bromo, yang merupakan salah satu destinasi wisata alam paling populer di Indonesia. Luasnya lahan yang terbakar menimbulkan kekhawatiran akan dampak ekologis dan pariwisata di kawasan tersebut.
Tim gabungan dari TNBTS, TNI, Polri, masyarakat peduli api, dan relawan telah dikerahkan untuk memadamkan api. Upaya pemadaman dilakukan dengan berbagai metode, termasuk menggunakan peralatan darat dan, jika memungkinkan, water bombing. Koordinasi antar instansi terkait terus ditingkatkan untuk mempercepat proses pemadaman dan mengantisipasi meluasnya api.
Septi juga mengimbau kepada seluruh pengunjung dan masyarakat yang beraktivitas di sekitar kawasan TNBTS untuk selalu berhati-hati dan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran. “Kami mengimbau kepada seluruh pengunjung dan masyarakat untuk selalu berhati-hati dan tidak melakukan aktivitas yang bisa memicu kebakaran, sekecil apapun itu,” pungkasnya.
Data terbaru menunjukkan bahwa hingga saat ini, proses pemadaman masih berlangsung intensif. Pihak TNBTS berkomitmen untuk terus memantau situasi dan memberikan informasi terkini mengenai perkembangan penanganan karhutla di Gunung Bromo.
