Aktivis Rohingya, Noor Azizah, menuai kecaman luas dari masyarakat di tiga negara Asia Tenggara, yakni Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Sorotan tajam ini muncul setelah pernyataannya dalam sebuah pidato yang diunggah ke media sosial dinilai menyudutkan dan menyinggung publik di ketiga negara tersebut. Pernyataan kontroversial ini pun dengan cepat menyebar dan memicu gelombang protes dari berbagai kalangan, termasuk tenaga medis dan warganet.
Dalam sebuah acara yang diselenggarakan di sebuah kampus, Noor Azizah menyampaikan penderitaan yang dialami oleh komunitas Rohingya. Ia menggunakan mikrofon untuk menyuarakan aspirasi dan keluh kesah para pengungsi. Rekaman pidato tersebut kemudian ia unggah ke akun Instagram pribadinya beberapa hari lalu, yang tak lama kemudian memicu reaksi negatif yang masif.
Salah satu kutipan yang paling banyak diperbincangkan berasal dari pidatonya mengenai situasi di Malaysia. Noor Azizah menyatakan, "Anda mungkin mengetahui Indonesia, Malaysia, dan Thailand sebagai destinasi wisata untuk Anda beserta keluarga. Di Malaysia, ada 2.000 anak yang dikurung di pusat imigrasi, tumbuh di balik jeruji alih-alih di dalam kelas." Pernyataan ini menimbulkan pertanyaan mengenai konteks dan keakuratan data yang disampaikannya.
Selanjutnya, perhatian juga tertuju pada narasi yang disampaikan Noor mengenai situasi di Indonesia. Ia mengklaim bahwa media sosial di Indonesia dipenuhi oleh narasi negatif yang bernada rasisme terhadap etnis Rohingya. "Di Indonesia, ujaran kebencian, misinformasi, disinformasi, membanjiri sosial media. Orang-orang menyebut kita ‘hewan berkulit gelap’, ‘sampah laut’, ‘monyet’," ungkap Noor Azizah, mengutip perkataan yang diduga ia dengar atau baca.
Tidak berhenti di situ, Noor juga menyoroti dugaan keterlibatan Thailand dalam praktik perdagangan orang. Ia menyebutkan bahwa banyak pria Rohingya dipaksa bekerja, sementara perempuan dari komunitas tersebut dilaporkan menghilang. Tuduhan ini menambah panjang daftar pernyataan kontroversial yang dilontarkannya.
Reaksi keras terhadap pidato Noor Azizah tidak dapat dihindari. Meskipun kolom komentar pada unggahan video pidatonya dinonaktifkan, publik beralih melayangkan protes dan kekecewaan mereka pada unggahan foto-foto lain di akun Instagram sang aktivis. Salah satunya datang dari seorang tenaga medis di Malaysia yang mengidentifikasi dirinya sebagai @khadijahskis.
"@noor.azizah.rohingya, yang terhormat, saya adalah seorang Spesialis Kedokteran Keluarga yang bekerja di pemerintah dan saya menjadi relawan dengan NGO untuk menyediakan layanan kesehatan gratis kepada komunitas Rohingya di Kedah, Malaysia," tulisnya. Ia mengungkapkan kekecewaannya atas generalisasi yang dilakukan Noor terhadap masyarakat Malaysia.
Menurut @khadijahskis, pernyataan Noor Azizah telah melukai perasaan warga Malaysia yang selama ini aktif memberikan bantuan kemanusiaan. "Cara kamu menggambarkan rakyatku tidak adil dan tidak mencerminkan siapa kita sebenarnya. Sebagai seorang warga Malaysia, saya menuntut permintaan maaf dari kamu kepada rakyat Malaysia. Ucapanmu tidak sopan dan telah menyebabkan kekecewaan yang mendalam di kalangan banyak dari kita," tegasnya.
Gelombang protes dari warganet dari ketiga negara terus membanjiri kolom komentar. Banyak yang berargumen bahwa kritik seharusnya ditujukan kepada pemerintah Myanmar, negara asal para pengungsi, bukan kepada negara-negara yang telah memberikan bantuan dan perlindungan. "Salahkan pemerintahmu, jangan Malaysia, Indonesia, dan Thailand," komentar salah seorang warganet dengan akun haidasefa20.
Netizen asal Indonesia juga turut menyuarakan pendapat serupa. Mereka mengingatkan Noor Azizah tentang kontribusi masyarakat Indonesia dalam membantu para pengungsi Rohingya. "Dan kamu lupa siapa yang membantu rakyatmu? Salahkan negaramu sendiri, jangan INDONESIA!" seru akun @straw_berrytrip15, menekankan pentingnya melihat akar permasalahan di negara asal.
Situasi pengungsi Rohingya di berbagai negara memang menjadi isu kemanusiaan yang kompleks. Berdasarkan data dari Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) per April 2026, Indonesia tercatat menampung 12.261 pengungsi resmi. Dari jumlah tersebut, sekitar 30 persennya adalah anak-anak. Komposisi pengungsi terbesar di Indonesia didominasi oleh mereka yang berasal dari Afghanistan (39 persen), diikuti oleh pengungsi dari Myanmar (22 persen), dan Somalia (13 persen). Angka-angka ini menunjukkan adanya upaya penampungan dan bantuan yang telah diberikan oleh negara-negara penerima, yang menjadi dasar bagi protes atas pernyataan Noor Azizah yang dianggap tidak merefleksikan upaya tersebut.











