Kemasan sachet, meskipun menawarkan kepraktisan dan keterjangkauan, kini menjadi salah satu tantangan terbesar bagi upaya keberlanjutan lingkungan di Indonesia. Fenomena ini semakin diperparah oleh realitas kemiskinan yang memengaruhi pola konsumsi masyarakat, menciptakan lingkaran setan yang sulit diputus.
Tekanan ekonomi memaksa mayoritas masyarakat Indonesia, terutama yang berpenghasilan rendah, untuk memprioritaskan harga terjangkau di atas segalanya. Akibatnya, produk-produk yang dikemas dalam sachet, yang seringkali lebih murah dan memungkinkan pembelian dalam jumlah kecil, menjadi pilihan utama. Hal ini menciptakan permintaan yang tinggi terhadap kemasan sekali pakai tersebut.
Dampak lingkungan dari masifnya penggunaan kemasan sachet sangatlah signifikan. Berdasarkan data dari Waste4Change, pada tahun 2021 saja, sekitar 10,3 miliar unit kemasan sachet telah dibuang ke lingkungan. Angka ini menunjukkan betapa besarnya beban sampah plastik yang dihasilkan oleh tren konsumsi ini. Plastik sachet, yang umumnya terbuat dari kombinasi berbagai jenis plastik (multilayer), sangat sulit dan mahal untuk didaur ulang, sehingga mayoritas berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) atau bahkan mencemari lingkungan alam.
Para ahli dan pemerhati lingkungan telah lama menyuarakan keprihatinan mereka. Dr. Nurlia H. M. Nuhung dari Institut Bisnis dan Informatika Kwik Kian Gie, dalam sebuah diskusi, menekankan bahwa kemasan sachet merupakan masalah krusial. Ia menyatakan, “Kemasan sachet ini memang menjadi masalah krusial, karena pada dasarnya sachet itu kan tidak bisa didaur ulang, tapi memang karena harganya murah, masyarakat kita lebih memilih sachet.” Pernyataan ini menggarisbawahi dilema antara kebutuhan ekonomi dan tanggung jawab lingkungan yang dihadapi oleh masyarakat.
Untuk mengatasi tantangan ini, diperlukan solusi yang komprehensif dan berkelanjutan. Salah satu langkah penting adalah mendorong inovasi dalam desain kemasan yang lebih ramah lingkungan dan mudah didaur ulang. Selain itu, dibutuhkan juga kampanye edukasi yang masif kepada masyarakat mengenai dampak buruk sampah plastik sachet serta pentingnya pengelolaan sampah yang bertanggung jawab.
Pemerintah juga memegang peranan kunci dalam mendorong perubahan ini. Kebijakan yang mendukung pengembangan produk dengan kemasan alternatif yang lebih berkelanjutan, serta insentif bagi industri yang beralih ke praktik kemasan yang lebih hijau, sangatlah dibutuhkan. Penguatan sistem pengelolaan sampah terpadu, mulai dari pemilahan hingga daur ulang, juga menjadi prioritas utama. Tanpa intervensi yang tepat dan kesadaran kolektif, kemasan sachet akan terus menjadi duri dalam upaya Indonesia mencapai masa depan yang lebih berkelanjutan.
