Menteri Agama Nasaruddin Umar mengumumkan kabar gembira terkait kerukunan umat beragama di Indonesia. Skor Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) tahun 2025 menunjukkan tren positif dengan adanya peningkatan signifikan dibandingkan periode sebelumnya.
Menurut data yang dirilis, skor IKUB tahun 2025 mencapai angka 73,37. Angka ini merupakan lompatan besar dari skor tahun 2022 yang tercatat sebesar 67,05. Peningkatan sebesar 6,32 poin ini menjadi indikator kuat membaiknya toleransi dan harmoni antarumat beragama di seluruh penjuru negeri.
Nasaruddin Umar menyampaikan rasa syukurnya atas capaian ini. Ia menekankan bahwa peningkatan skor IKUB ini bukan hanya sekadar angka, melainkan cerminan dari upaya bersama seluruh elemen bangsa dalam menjaga dan merawat kerukunan. “Alhamdulillah, kita patut bersyukur atas capaian ini. Ini adalah hasil kerja keras dan komitmen kita bersama,” ujar Menteri Agama dalam keterangannya.
Lebih lanjut, Menteri Agama menjelaskan bahwa IKUB 2025 mengukur tingkat kerukunan umat beragama melalui tiga dimensi utama. Ketiga dimensi tersebut meliputi harmonisasi dalam internal umat beragama, harmonisasi antarumat beragama, dan harmonisasi antara umat beragama dengan pemerintah. Hasil survei menunjukkan adanya peningkatan di ketiga dimensi tersebut, yang berkontribusi pada skor keseluruhan yang lebih tinggi.
Survei IKUB 2025 dilaksanakan di 34 provinsi di seluruh Indonesia, melibatkan responden yang beragam dari berbagai latar belakang agama, suku, dan wilayah. Metode pengumpulan data menggunakan wawancara tatap muka dengan jumlah sampel sebanyak 10.000 responden. Hasil survei ini kemudian dianalisis secara mendalam untuk menghasilkan skor yang akurat dan representatif.
Meskipun trennya positif, Nasaruddin Umar mengingatkan bahwa upaya menjaga kerukunan harus terus ditingkatkan. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi gesekan yang dapat mengganggu harmoni. Pihaknya juga berkomitmen untuk terus mendorong program-program yang dapat memperkuat toleransi dan dialog antarumat beragama di masa mendatang. “Kita tidak boleh berpuas diri. Kerukunan adalah anugerah yang harus terus kita jaga dan pupuk bersama,” tegasnya.
