Jakarta – Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) kembali menunjukkan pelemahan pada penutupan perdagangan, Kamis (30/7/2026). Mata uang Garuda tercatat melemah 38 poin atau sekitar 0,21% terhadap Dolar AS.
Kondisi ini mengindikasikan bahwa Rupiah masih kesulitan untuk keluar dari rentang pelemahan yang cukup signifikan, yakni di kisaran Rp18.000-an per Dolar AS. Pelemahan yang terus terjadi ini menarik perhatian para analis ekonomi untuk mengkaji lebih dalam faktor-faktor yang memengaruhinya.
Salah satu sentimen utama yang mendorong pelemahan Rupiah adalah kekhawatiran pasar terhadap prospek ekonomi global yang masih diselimuti ketidakpastian. Perlambatan pertumbuhan ekonomi di negara-negara maju, serta potensi kenaikan suku bunga acuan di Amerika Serikat, memberikan tekanan tersendiri bagi mata uang negara berkembang seperti Rupiah.
Analis Pasar Keuangan dari PT. XYZ Sekuritas, Budi Santoso, dalam keterangannya kepada media, mengungkapkan bahwa “Sentimen global yang masih negatif menjadi salah satu pendorong utama pelemahan Rupiah. Investor cenderung mencari aset yang lebih aman (safe haven) di tengah ketidakpastian ekonomi saat ini.” Ia menambahkan bahwa “Perlambatan ekonomi di Tiongkok dan Eropa, serta potensi pengetatan kebijakan moneter oleh The Fed (Bank Sentral Amerika Serikat) turut memperkeruh suasana.”
Selain sentimen global, faktor domestik juga turut berkontribusi terhadap pelemahan Rupiah. Belum pulihnya kepercayaan investor terhadap prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia, serta isu-isu domestik yang berpotensi memicu ketidakstabilan, juga menjadi perhatian pasar. Tingkat inflasi yang masih perlu diwaspadai dan defisit transaksi berjalan yang belum sepenuhnya tertangani, juga menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah dan Bank Indonesia.
Budi Santoso lebih lanjut menjelaskan, “Perlu adanya langkah-langkah strategis dari pemerintah untuk memulihkan kepercayaan investor. Kebijakan fiskal yang lebih ekspansif namun tetap hati-hati, serta upaya stabilisasi nilai tukar oleh Bank Indonesia, diharapkan dapat meredam pelemahan Rupiah lebih lanjut.” Ia menekankan pentingnya sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal untuk menghadapi tantangan ekonomi saat ini.
Dengan demikian, Rupiah diperkirakan masih akan bergerak dalam tren pelemahan dalam jangka pendek, selama sentimen negatif global dan domestik belum sepenuhnya mereda. Perhatian pasar akan terus tertuju pada perkembangan data ekonomi baik dari dalam maupun luar negeri, serta langkah-langkah kebijakan yang akan diambil oleh otoritas terkait.
