Penggunaan statin secara sistemik dilaporkan dapat menekan angka kejadian proliferatif vitreoretinopathy (PVR) dan kebutuhan operasi ulang pasca perbaikan primer ablasi retina hingga hampir separuh. Temuan ini diungkapkan oleh seorang pembicara dalam pertemuan tahunan American Society of Retina Specialists.
Dr. Christina Y. Weng, MD, MBA, FASRS, dari Baylor College of Medicine di Houston, menjelaskan bahwa statin, yang umum diresepkan untuk kolesterol tinggi, ternyata memiliki sifat anti-inflamasi dan antifibrotik. “Statin memiliki sifat anti-inflamasi dan antifibrotik, termasuk menghambat IL-6, IL-8 dan MCP-1 pada sel [retinal pigment epithelium],” ujar Dr. Weng kepada Healio.
Penelitian yang dipresentasikan bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas statin oral dalam mengurangi risiko PVR. PVR sendiri merupakan komplikasi serius yang dapat menyebabkan kegagalan pemulihan penglihatan setelah operasi ablasi retina.
Dalam studi tersebut, pasien yang menjalani perbaikan primer ablasi retina dan juga mengonsumsi statin menunjukkan penurunan signifikan pada kejadian PVR dibandingkan dengan mereka yang tidak menggunakan statin. Angka operasi ulang akibat PVR juga dilaporkan berkurang drastis.
Lebih lanjut, Dr. Weng mengemukakan bahwa temuan ini membuka potensi baru dalam manajemen pasien ablasi retina. “Tujuan studi kami adalah untuk menentukan apakah statin oral…” kutipan terhenti pada bagian ini dalam sumber asli.
Meskipun demikian, data awal ini memberikan harapan bahwa obat yang umum digunakan untuk penyakit kardiovaskular tersebut dapat memberikan manfaat tambahan dalam perawatan mata, khususnya untuk mencegah komplikasi pascaoperasi pada kondisi ablasi retina.
