Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Republik Indonesia, Eddy Soeparno, menyoroti adanya fenomena migrasi pengguna Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax dan produk sejenisnya. Pergeseran ini, menurutnya, dipicu oleh berbagai faktor yang patut dicermati oleh pemangku kepentingan di sektor energi.
Salah satu alasan utama di balik perpindahan pengguna ini adalah perbedaan harga yang signifikan antara Pertamax Cs dengan BBM bersubsidi. “Terdapat perbedaan harga yang cukup signifikan antara Pertamax, Pertalite, dan BBM lainnya dengan BBM bersubsidi. Hal ini menjadi pertimbangan utama bagi masyarakat dalam memilih bahan bakar,” ujar Eddy Soeparno saat ditemui di Gedung Nusantara III MPR, Jakarta, pada Selasa (25/06/2024).
Eddy menjelaskan lebih lanjut bahwa meskipun Pertamax menawarkan kualitas yang lebih baik, terutama untuk kendaraan modern yang membutuhkan oktan tinggi, selisih harga yang terlalu lebar membuat masyarakat, khususnya dengan keterbatasan ekonomi, cenderung memilih opsi yang lebih terjangkau. Kenaikan harga Pertamax Cs, yang ditetapkan oleh PT Pertamina (Persero) secara berkala, seringkali menjadi pemicu utama bagi konsumen untuk mencari alternatif yang lebih ekonomis.
Selain faktor harga, ketersediaan dan aksesibilitas juga menjadi pertimbangan penting. Di beberapa daerah, meskipun Pertamax Cs tersedia, masyarakat mungkin lebih mudah menemukan SPBU yang menjual BBM bersubsidi. Hal ini dapat mempengaruhi keputusan pembelian sehari-hari.
Pihak MPR, melalui Eddy Soeparno, berharap agar pemerintah dan Pertamina dapat melakukan evaluasi mendalam terhadap kebijakan harga BBM. “Kita perlu mencari solusi agar masyarakat tetap dapat menggunakan bahan bakar yang sesuai dengan spesifikasi kendaraannya tanpa terbebani secara ekonomi. Mungkin perlu ada kajian ulang mengenai subsidi atau skema harga yang lebih berkeadilan,” tambahnya.
Fenomena migrasi ini menjadi sinyal bahwa kebijakan harga BBM perlu disesuaikan dengan daya beli masyarakat dan kondisi ekonomi terkini. Tanpa penyesuaian yang tepat, tren perpindahan pengguna dari BBM nonsubsidi ke bersubsidi, atau sebaliknya tergantung pada dinamika harga, akan terus berlanjut dan berpotensi menimbulkan masalah baru dalam distribusi dan konsumsi energi nasional.
