Tim nasional sepak bola amputasi putra Inggris menghadapi kendala finansial besar untuk mengikuti Piala Dunia yang akan digelar di Meksiko pada November mendatang. Tanpa dukungan pendanaan nasional, tim yang berprestasi ini berjuang mengumpulkan dana sebesar 50.000 poundsterling atau sekitar Rp 980 juta untuk keberangkatan mereka.
Scott Rogers, pelatih kepala timnas amputasi Inggris, mengungkapkan keprihatinannya saat berada di St George’s Park, fasilitas latihan yang megah dan diklaim sebagai rumah bagi seluruh tim sepak bola Inggris. “Saya melihatnya setiap kali dan berkata, ‘Ya, tidak semuanya’,” ujar Rogers, merujuk pada kenyataan bahwa timnya belum mendapatkan dukungan dari Football Association (FA).
Meskipun FA mendanai enam tim nasional paralimpik, sepak bola amputasi tidak termasuk di dalamnya. Padahal, tim asuhan Rogers berhasil menjuarai Nations League pada tahun 2023, sebuah pencapaian yang seharusnya mendapatkan apresiasi dan dukungan lebih.
Kondisi ini membuat para pemain dan staf pelatih harus berjuang keras mencari sumber pendanaan. Berbagai upaya penggalangan dana telah dilakukan, namun target 50.000 poundsterling masih jauh dari tercapai. Biaya tersebut mencakup tiket pesawat, akomodasi, dan kebutuhan logistik lainnya selama turnamen di Meksiko.
Keputusan FA untuk tidak memberikan bantuan dana kepada tim sepak bola amputasi menuai kritik. Banyak pihak menilai hal ini tidak adil, mengingat sepak bola amputasi merupakan cabang olahraga yang membutuhkan perjuangan ekstra dari para atletnya. Dukungan finansial dari federasi sepak bola nasional dianggap krusial untuk memastikan partisipasi tim di ajang internasional seperti Piala Dunia.
Keberhasilan timnas amputasi Inggris di Nations League menjadi bukti bahwa mereka memiliki potensi dan semangat juang yang tinggi. Absennya mereka di Piala Dunia karena masalah dana akan menjadi pukulan telak bagi perkembangan sepak bola amputasi di Inggris dan menjadi contoh buruk minimnya perhatian terhadap olahraga disabilitas.
