Jokowi Buka Suara Soal Isu Gabung PSI dan Jabat Ketua Dewan Pembina

Heni Maulidya

Presiden Joko Widodo tidak membantah kabar yang beredar mengenai kemungkinan dirinya bergabung dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan mengisi posisi Ketua Dewan Pembina. Pernyataan ini disampaikan Jokowi saat ditemui di kediamannya di Sumber, Solo, Jawa Tengah, pada Jumat (19/6), di tengah menguatnya spekulasi mengenai peran politiknya pasca-purna tugas sebagai presiden.

Menanggapi pertanyaan wartawan terkait isu tersebut, Presiden Jokowi menekankan bahwa setiap individu yang ingin bergabung dengan PSI harus melalui mekanisme internal partai yang ketat. "Di PSI itu kan ada mekanisme partai yang harus dilalui. Tidak hanya penjaketan aja langsung," ujar Jokowi, menyiratkan bahwa prosesnya lebih dari sekadar simbolis atau penyerahan atribut partai. Pernyataan ini muncul di saat banyak pihak menduga adanya pergerakan politik Jokowi setelah masa jabatannya sebagai kepala negara berakhir.

Meskipun belum memberikan konfirmasi definitif mengenai posisinya di PSI, Jokowi menyatakan kesiapannya untuk membantu partai tersebut dalam meraih dukungan masyarakat. Ia menegaskan komitmennya untuk bekerja keras demi kemenangan PSI, mengulang kembali pernyataannya saat menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) PSI di Makassar pada Januari lalu. "Seperti yang saya sampaikan di Kongres, di Rakernas PSI, saya akan kerja mati-matian untuk PSI," ungkapnya. Komitmen ini menunjukkan kedekatan emosional dan dukungan penuh Jokowi terhadap partai yang kini dinahkodai oleh putra bungsunya, Kaesang Pangarep.

Lebih lanjut, Jokowi mengungkapkan rencana perjalanannya ke berbagai daerah di Indonesia dalam waktu dekat. Kunjungan tersebut, menurutnya, merupakan respons atas undangan dari masyarakat dan juga dari PSI. Lampung dijadwalkan menjadi destinasi pertama pada 25-27 Juni, diikuti oleh kunjungan ke Jawa Barat dan Nusa Tenggara Timur. "Yang paling penting undangan dari masyarakat dan dari PSI akan saya hadiri semua," tandasnya, mengindikasikan agenda yang padat dan keterlibatannya dalam kegiatan partai.

Spekulasi mengenai peran Jokowi di PSI semakin menguat setelah Wakil Ketua Dewan Pembina PSI, Grace Natalie, menyebutkan bahwa partainya sedang mempercepat pembentukan struktur organisasi hingga ke tingkat desa dan kelurahan. Grace menjelaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari persiapan menghadapi verifikasi partai sekaligus persiapan sebelum Jokowi secara resmi bergabung ke dalam struktur PSI. "Agar Bapak Dewan Pembina bisa segera secara formal memakai jaket PSI dan ikut menyapa masyarakat," kata Grace dalam salah satu kunjungannya.

Penyematan "jaket partai" kepada Jokowi nantinya dipandang oleh Ketua Harian PSI, Ahmad Ali, lebih bersifat seremonial. Menurutnya, kedekatan mantan presiden tersebut dengan PSI sudah terlihat jelas selama ini, sehingga pengumuman formal hanya akan mengukuhkan apa yang sudah ada. Sementara itu, Ketua Bidang Politik DPP PSI, Bestari Barus, menyatakan bahwa keputusan akhir terkait pengumuman Jokowi sebagai Ketua Dewan Pembina berada di tangan Ketua Umum PSI, Kaesang Pangarep. Bestari juga mengakui bahwa keterlibatan Jokowi dalam struktur PSI telah menjadi "rahasia umum" di kalangan internal partai.

Keterlibatan Jokowi dengan PSI memang telah menjadi sorotan publik sejak lama. Presiden ke-7 RI ini kerap terlihat memberikan dukungan kepada PSI, termasuk saat partai tersebut menyelenggarakan berbagai acara penting. Dukungan ini bukan hanya sekadar kehadiran fisik, tetapi juga pernyataan-pernyataan yang menunjukkan komitmen kuatnya terhadap visi dan misi partai. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai bagaimana peran Jokowi akan membentuk arah politik PSI ke depan, terutama dalam menghadapi kontestasi politik di masa mendatang.

Kehadiran Jokowi sebagai tokoh sentral di PSI diprediksi akan memberikan dorongan elektoral yang signifikan. Pengalamannya sebagai kepala negara selama dua periode, ditambah dengan popularitasnya yang masih tinggi, diperkirakan dapat mendongkrak citra dan perolehan suara PSI. Hal ini juga sejalan dengan strategi PSI untuk terus merangkul tokoh-tokoh publik yang memiliki rekam jejak baik dan diterima oleh masyarakat luas.

Peran sebagai Ketua Dewan Pembina Dewan Pembina akan memberikan Jokowi posisi strategis untuk memberikan arahan dan masukan kepada kepengurusan partai. Meskipun tidak terlibat langsung dalam operasional harian, pengaruhnya sebagai penasihat senior akan sangat berarti dalam menentukan kebijakan partai dan strategi pemenangan. Hal ini juga membuka kemungkinan bagi PSI untuk semakin memperluas jaringan dan basis pendukungnya.

Keputusan Jokowi untuk merapat ke PSI juga menarik untuk dicermati dari perspektif dinamika politik nasional. Dalam beberapa tahun terakhir, PSI telah memposisikan diri sebagai partai yang berfokus pada generasi muda dan isu-isu progresif. Dengan bergabungnya Jokowi, partai ini berpotensi menarik segmen pemilih yang lebih luas, termasuk mereka yang mengagumi kepemimpinan dan kebijakan Presiden saat ini.

Proses formalisasi bergabungnya Jokowi ke PSI, termasuk penyerahan atribut partai, diperkirakan akan dilakukan setelah seluruh mekanisme internal partai selesai dijalankan. Tahapan ini penting untuk memastikan legitimasi dan legalitas keanggotaan Jokowi di partai tersebut. Sementara itu, PSI terus berupaya memperkuat struktur organisasinya sebagai persiapan untuk menghadapi berbagai tantangan politik, termasuk verifikasi partai yang menjadi syarat mutlak untuk dapat berpartisipasi dalam pemilihan umum. Dengan dukungan dari figur sekaliber Jokowi, PSI optimis dapat mencapai target-target politiknya di masa mendatang.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All