Piala Dunia tidak hanya tentang gol-gol spektakuler, drama menegangkan, dan emosi yang meluap. Lebih dari itu, turnamen akbar ini juga menjadi panggung bagi desain-desain kostum sepak bola yang memukau dan sarat makna. Benua Afrika, dengan kekayaan budayanya, telah mempersembahkan sejumlah jersey yang tak hanya memanjakan mata tetapi juga mengukir sejarah. BBC Sport Africa baru-baru ini merangkum 10 jersey terbaik dari negara-negara Afrika yang pernah menghiasi pentas Piala Dunia, mengundang para penggemar untuk memilih favorit sepanjang masa.
Sejak debutnya di Piala Dunia 1974, Zaire (kini Republik Demokratik Kongo) telah menampilkan desain jersey yang berani dan mencerminkan identitas bangsa. Jersey kandang mereka yang dominan kuning dan hijau, dengan kerah besar dan leher V-neck yang khas era tersebut, bukan sekadar pakaian olahraga. Pada bagian dada, nama negara dan julukan tim "Leopards" terpampang gagah, sebuah pernyataan identitas yang kuat. Meski perjalanan Zaire di Jerman Barat 1974 berakhir dengan kekalahan telak 9-0 dari Yugoslavia, jersey mereka tetap dikenang sebagai salah satu yang paling berani dan orisinal. Desainer asal Kongo, Alvin Junior Mak, bahkan mengaku terinspirasi dari gaya tahun 1974 untuk desain jersey timnas terbarunya, menegaskan bahwa melihat ke belakang adalah kunci untuk melangkah maju.
Selanjutnya, Algeria di Piala Dunia 1982 juga mencuri perhatian dengan jersey kandang yang tak kalah menarik. Mirip dengan Zaire, jersey ini menampilkan kerah lebar dan leher V-neck yang identik dengan era 80-an. Dibuat oleh perusahaan pakaian milik negara, Sonitex, di masa kejayaan sosialis Algeria, jersey ini kini menjadi buruan para kolektor dan "football hipsters". Hilangnya perlindungan hak cipta desain membuat banyak perusahaan kecil di Aljazair dan diaspora memproduksi ulang jersey ini, menjadikannya simbol nostalgia dan kebanggaan.
Reputasi Afrika dalam menciptakan jersey ikonik semakin menguat pada Piala Dunia 1990 di Italia, ketika Kamerun melangkah hingga perempat final. Perjalanan heroik "Indomitable Lions" ini tak lepas dari jersey kandang mereka yang memukau. Dengan dominasi warna hijau, celana merah, dan kaus kaki kuning, jersey ini dihiasi gambar singa mengaum di dada kiri, melambangkan kebanggaan, keberanian, dan determinasi. Banyak yang mengaitkan performa gemilang Kamerun saat itu dengan "keberuntungan" yang dibawa oleh jersey tersebut.
Nigeria, yang pertama kali tampil di Piala Dunia pada 1994, langsung memberikan gebrakan dengan jersey away mereka. Desain putih dengan pola abstrak abu-abu dan hitam yang rumit memberikan nuansa Afrika yang kental. Jersey ini dikenakan saat "Super Eagles" meraih kemenangan 3-0 atas Bulgaria dan 2-0 atas Yunani. Mantan kapten Nigeria, William Troost-Ekong, bahkan menyebutnya sebagai jersey terbaik yang pernah dikenakan timnas, mengasosiasikannya dengan generasi pemain legendaris yang membanggakan.
Pada Piala Dunia 1998 di Prancis, Afrika Selatan tampil perdana dengan jersey kandang yang merupakan pengembangan dari desain juara Piala Afrika 1996. Jersey geometris ini memadukan warna putih, emas, dan hijau, menampilkan blok-blok horizontal yang stylish. Meskipun Afrika Selatan gagal meraih kemenangan di tiga laga grup, jersey buatan Kappa ini dianggap sebagai salah satu kreasi terbaik dari era tersebut.
Tahun 2002 menjadi saksi bisu dua jersey Afrika yang tak terlupakan. Kamerun, selain dikenal dengan performa impresifnya, juga membuat heboh dengan jersey kandang tanpa lengan yang awalnya dikenakan saat menjuarai Piala Afrika. Desain bak rompi basket ini sempat dilarang oleh FIFA untuk Piala Dunia, memaksa Kamerun menambahkan lengan hitam. Namun, popularitasnya di kalangan penggemar Afrika tak terbantahkan, menjadi simbol era baru dalam desain jersey sepak bola.
Di turnamen yang sama, Senegal membuat debut Piala Dunia mereka dengan kemenangan mengejutkan 1-0 atas juara bertahan Prancis. Gol tunggal Papa Bouba Diop tercipta saat Senegal mengenakan jersey kandang putih dengan trim hijau, kuning, dan merah. Desain yang agak longgar ini, dengan nomor 19 di dada, menjadi sangat dicintai oleh penggemar. Hingga kini, jersey 2002 masih menjadi favorit banyak anak muda Senegal, bahkan lebih diminati daripada desain-desain baru.
Ghana di Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan nyaris mencetak sejarah sebagai tim Afrika pertama yang mencapai semifinal. Momen dramatis saat Asamoah Gyan gagal mengeksekusi penalti melawan Uruguay, yang seharusnya membawa mereka lolos, tak lepas dari jersey away mereka yang mencolok. Kombinasi garis vertikal merah dan emas ini, meski dikenakan dalam momen yang menyakitkan, tetap dikenang sebagai desain yang berani. Mantan bintang Ghana, Michael Essien, bahkan menyebutnya sebagai jersey yang bagus dan disukai pemain, meskipun ia sedikit bercanda bahwa desainnya yang ketat menuntut postur tubuh yang prima.
Kembali ke Nigeria, jersey kandang mereka di Piala Dunia 2018 menjadi fenomena global. Desain neon hijau dengan chevron putih di dada dan chevron hitam di lengan putih sukses memukau publik. Jersey ini memicu antrean panjang di luar toko, bahkan disebut sebagai "jersey sepak bola terbaik sepanjang masa" oleh beberapa pemain. Desain ini juga menjadi bentuk apresiasi terhadap jersey ikonik Nigeria tahun 1994, mengukuhkan statusnya sebagai klasik modern.
Terbaru, Ghana untuk Piala Dunia 2026 kembali menampilkan desain yang unik. Jersey kandang mereka kali ini dihiasi motif seperti jaring laba-laba berwarna hijau, merah, dan emas, dengan bintang hitam di tengah dada. Motif ini terinspirasi dari Kwaku Ananse, tokoh cerita rakyat Ghana yang digambarkan sebagai laba-laba. Namun, jersey ini menghadapi kendala regulasi FIFA yang melarang Ghana mengenakannya di fase grup, menyisakan pertanyaan apakah desain spektakuler ini akan benar-benar menjadi ikon Piala Dunia yang tak terpisahkan.
Setiap jersey ini bukan hanya sekadar pakaian tim, melainkan representasi identitas, sejarah, dan semangat bangsa Afrika di panggung sepak bola dunia. Pilihan favorit mungkin bervariasi, namun warisan visual yang mereka tinggalkan akan terus hidup dalam ingatan para penggemar.











