Wednesday, 22 July 2026
BREAKING
BERITA

Penurunan Oksigen Laut: Ancaman Senyap bagi Kehidupan Air dan Bumi

Oleh Emanuel July 22, 2026 5 hours lalu 0 komentar

Kadar oksigen di lautan global dilaporkan mengalami penurunan signifikan, sebuah fenomena yang mengancam ekosistem laut dan keseimbangan planet secara keseluruhan. Ironisnya, kesadaran masyarakat terhadap isu krusial ini masih tergolong minim, padahal dampaknya bisa sangat luas.

Penelitian terbaru yang dirilis dalam jurnal Science pada awal tahun 2024 mengindikasikan bahwa lautan dunia telah kehilangan sekitar 2% oksigennya sejak tahun 1960-an. Angka ini mungkin terdengar kecil, namun implikasinya sangat besar bagi kelangsungan hidup berbagai spesies air.

Penyebab utama dari menipisnya kadar oksigen terlarut di lautan ini adalah aktivitas manusia yang terus meningkat. Pemanasan global, yang dipicu oleh emisi gas rumah kaca dari industri, transportasi, dan deforestasi, memainkan peran sentral. Air laut yang lebih hangat memiliki kapasitas yang lebih rendah untuk menahan oksigen. Selain itu, limpasan nutrisi dari aktivitas pertanian dan limbah industri ke perairan juga berkontribusi pada eutrofikasi, sebuah proses yang mendorong pertumbuhan alga berlebih. Ketika alga ini mati dan terurai, bakteri mengonsumsi oksigen dalam jumlah besar, menciptakan zona mati (dead zones) di mana kehidupan laut sulit bertahan.

Dr. Denise Breitburg, seorang ilmuwan senior di Smithsonian Environmental Research Center dan salah satu penulis utama dari studi tersebut, menekankan urgensi situasi ini. “Penurunan oksigen laut adalah masalah yang sangat serius, namun belum banyak mendapatkan perhatian publik yang layak,” ujar Dr. Breitburg. Ia menambahkan bahwa fenomena ini bukan hanya ancaman bagi ikan dan biota laut lainnya, tetapi juga bagi miliaran manusia yang bergantung pada sumber daya laut untuk pangan dan mata pencaharian.

Dampak dari rendahnya kadar oksigen di lautan sangat beragam. Spesies laut yang membutuhkan banyak oksigen, seperti tuna dan marlin, terpaksa bermigrasi ke perairan yang lebih dalam atau ke arah kutub untuk mencari lingkungan yang lebih layak. Hal ini dapat mengganggu rantai makanan dan keseimbangan ekosistem. Bagi organisme yang tidak dapat berpindah, seperti kerang dan terumbu karang, penurunan oksigen dapat menyebabkan kematian massal. Laporan dari International Union for Conservation of Nature (IUCN) pada tahun 2023 juga menyoroti bagaimana penurunan oksigen laut memperburuk ancaman kepunahan bagi banyak spesies laut.

Para ilmuwan menyerukan tindakan segera untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan mengendalikan polusi nutrisi yang masuk ke lautan. Tanpa upaya kolektif yang signifikan, lautan dunia berisiko kehilangan lebih banyak oksigennya, dengan konsekuensi yang sulit dibayangkan bagi kehidupan di Bumi.

Bagikan: Facebook X WhatsApp