Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia mencatat defisit sebesar Rp 196,5 triliun pada semester I tahun 2023. Angka ini merepresentasikan 0,88% dari Produk Domestik Bruto (PDB) nasional.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan bahwa realisasi defisit ini merupakan perbaikan signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. “Defisit APBN hingga akhir Juni 2023 tercatat Rp 196,5 triliun atau 0,88 persen terhadap PDB. Ini merupakan level terendah sejak pandemi COVID-19,” ujar Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN KiTa Edisi Juli 2023 yang disiarkan secara daring pada Kamis (20/7/2023).
Perbaikan posisi fiskal ini didorong oleh kinerja pendapatan negara yang lebih kuat dan pengelolaan belanja yang lebih efisien. Pendapatan negara tercatat mencapai Rp 1.278,4 triliun atau 58,1% dari target, sementara realisasi belanja negara sebesar Rp 1.475 triliun atau 53,4% dari pagu.
Pendapatan negara tersebut terdiri dari penerimaan perpajakan sebesar Rp 1.059,1 triliun dan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) senilai Rp 217,9 triliun. Kinerja penerimaan perpajakan melampaui target yang ditetapkan, menunjukkan pemulihan aktivitas ekonomi yang positif.
Sementara itu, realisasi belanja negara mencakup belanja kementerian/lembaga (K/L) sebesar Rp 971,8 triliun dan transfer ke daerah (TKD) serta dana desa sebesar Rp 403,2 triliun. Pengelolaan belanja ini dilakukan dengan tetap menjaga prioritas pembangunan dan memberikan stimulus yang dibutuhkan untuk pertumbuhan ekonomi.
Sri Mulyani menambahkan bahwa keseimbangan primer APBN juga menunjukkan perbaikan, tercatat surplus Rp 157,9 triliun. “Keseimbangan primer hingga Juni 2023 tercatat surplus Rp 157,9 triliun. Ini menunjukkan bahwa pendapatan negara lebih besar dari belanja negara di luar pembayaran bunga utang,” jelasnya.
Pemerintah terus berkomitmen untuk menjaga kesehatan fiskal dan memastikan APBN tetap berfungsi sebagai instrumen yang efektif dalam mendukung stabilitas ekonomi, pertumbuhan inklusif, dan kesejahteraan masyarakat, terutama di tengah ketidakpastian global yang masih membayangi.
