PT Blue Bird Tbk (BIRD) mencetak sejarah baru dengan membukukan pendapatan tertinggi sejak pertama kali melantai di bursa saham. Kinerja finansial gemilang ini berujung pada persetujuan pembagian dividen tunai jumbo sebesar Rp166 per saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar baru-baru ini. Angka dividen yang signifikan ini mencerminkan kepercayaan perusahaan terhadap prospek bisnisnya dan komitmen untuk memberikan imbal hasil terbaik bagi para investor.
Keputusan pembagian dividen ini secara resmi disahkan dalam RUPST untuk tahun buku 2025. Dengan nilai Rp166 per saham, Blue Bird menetapkan rasio pembayaran dividen (dividend payout ratio) sebesar 65,3 persen dari total laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk. Langkah korporasi ini merupakan bukti nyata keberhasilan Blue Bird dalam mengelola kinerja keuangan yang solid sepanjang tahun fiskal 2025, sebuah pencapaian yang patut diapresiasi mengingat ketatnya persaingan di industri transportasi.
Bayu Djokosoetono, Komisaris Utama PT Blue Bird Tbk, menyatakan apresiasinya atas performa perusahaan. "Dewan Komisaris melihat Perseroan mampu menjaga kinerja yang sehat sekaligus mempertahankan disiplin dalam menjalankan strategi jangka panjang. Konsistensi tersebut menjadi fondasi penting bagi Bluebird untuk terus menciptakan nilai bagi pemegang saham," ujar Bayu dalam keterangannya usai RUPST di Jakarta. Pernyataan ini menegaskan bahwa pertumbuhan finansial perusahaan tidak hanya bersifat jangka pendek, melainkan didukung oleh fondasi strategis yang kuat.
Secara rinci, laporan keuangan perseroan menunjukkan bahwa Blue Bird berhasil membukukan pendapatan bersih sebesar Rp5,7 triliun sepanjang tahun 2025. Angka ini menandai pertumbuhan solid sebesar 13 persen jika dibandingkan dengan capaian pada tahun sebelumnya. Pertumbuhan pendapatan yang konsisten ini menjadi indikator positif mengenai kemampuan perusahaan dalam menangkap peluang pasar dan mengelola operasionalnya secara efisien.
Sejalan dengan peningkatan pendapatan, performa EBITDA (Earnings Before Interest, Taxes, Depreciation, and Amortization) perusahaan turut terkerek naik 13 persen menjadi Rp1,4 triliun. Sementara itu, laba tahun berjalan yang berhasil diraih emiten berkode saham BIRD ini mencapai Rp643 miliar, sebuah peningkatan sebesar 9 persen. Kenaikan laba ini menunjukkan efektivitas perusahaan dalam mengelola biaya dan meningkatkan profitabilitas.
Direktur Utama PT Blue Bird Tbk, Adrianto Djokosoetono, yang akrab disapa Andre, menggarisbawahi bahwa pencapaian gemilang di tahun 2025 merupakan bukti nyata konsistensi perusahaan dalam memperkuat kualitas layanan dan mengembangkan solusi mobilitas yang adaptif terhadap kebutuhan pelanggan. "Pencapaian tahun 2025 menjadi bukti konsistensi Bluebird dalam memperkuat kualitas layanan dan mengembangkan solusi mobilitas yang relevan dengan kebutuhan pelanggan," ungkap Andre usai RUPST PT Blue Bird Tbk pada Kamis (18/6/2026).
Andre menambahkan, fokus pada inovasi, pemanfaatan teknologi terkini, serta perluasan kapasitas operasional terus menjadi motor penggerak pertumbuhan perseroan. Ke depan, Blue Bird berencana untuk terus memperkuat layanan intinya, meningkatkan kontribusi dari kanal digital, serta menjaga keseimbangan antara pertumbuhan bisnis, efisiensi operasional, dan kualitas layanan demi mencapai pertumbuhan yang sehat dan berkelanjutan dalam jangka panjang. Strategi ini diharapkan dapat semakin memperkuat posisi Blue Bird di pasar transportasi yang dinamis.
Direktur Keuangan Blue Bird, Irawaty Salim, memaparkan bahwa pertumbuhan profitabilitas yang kuat ini didorong oleh beberapa faktor utama. Peningkatan volume perjalanan masyarakat yang signifikan, perluasan kapasitas operasional, serta penguatan kontribusi dari lini bisnis non-taksi turut berkontribusi pada kinerja positif ini. Hal ini menunjukkan diversifikasi bisnis Blue Bird yang semakin membuahkan hasil.
Meskipun lini bisnis non-taksi terus berkembang, pendapatan dari taksi reguler masih menjadi kontributor utama, tercatat mendominasi sebesar 70 persen sepanjang tahun 2025. Posisi ini relatif stabil dengan pergerakan di level 69 persen pada kuartal pertama (Q1) tahun ini. Pendapatan dari taksi reguler ini menjadi tulang punggung operasional Blue Bird dan menunjukkan loyalitas pelanggan terhadap layanan inti perusahaan.
Sisa dari raihan laba bersih tahun lalu yang tidak dibagikan sebagai dividen akan dialokasikan sebagai laba ditahan. Dana ini akan digunakan untuk memperkuat struktur permodalan perusahaan serta menambah modal kerja. Penguatan struktur permodalan menjadi langkah krusial bagi Blue Bird untuk menghadapi tantangan bisnis di masa depan dan mendukung ekspansi yang berkelanjutan.
Manajemen Blue Bird telah menetapkan jadwal penting terkait pembagian dividen. Sesuai dengan keputusan rapat, recording date atau daftar pemegang saham yang berhak menerima dividen dijadwalkan pada tanggal 30 Juni 2026. Selanjutnya, proses pembayaran dividen tunai akan dieksekusi secara serentak pada tanggal 10 Juli 2026, memberikan kepastian bagi para pemegang saham mengenai realisasi imbal hasil investasi mereka. Perjalanan Blue Bird pasca-IPO terus menunjukkan tren positif, didukung oleh inovasi dan strategi bisnis yang matang.











