Lonjakan biaya hidup yang semakin terasa membuat masyarakat Indonesia kini menghadapi fenomena baru yang disebut friendflation. Kondisi ini menggambarkan bagaimana tingginya ongkos untuk sekadar berkumpul dan bersosialisasi membuat banyak orang terpaksa mengurangi frekuensi bertemu dengan teman-teman mereka. Fenomena ini menjadi sorotan seiring dengan meningkatnya harga kebutuhan sehari-hari.
Salah satu dampak nyata dari friendflation adalah pergeseran prioritas pengeluaran. Aktivitas yang dulunya dianggap lumrah dan terjangkau, seperti sekadar minum kopi atau makan bersama di kafe, kini mulai terasa memberatkan. Mahalnya harga makanan, minuman, hingga ongkos transportasi menjadi faktor utama yang membuat pertemuan sosial menjadi sebuah pertimbangan serius.
Banyak yang merasakan bahwa anggaran untuk bersenang-senang atau bersosialisasi harus dikorbankan demi memenuhi kebutuhan pokok yang kian mahal. “Dulu kalau mau ketemu teman, tinggal janjian aja, enggak terlalu mikirin biaya. Sekarang, mikir-mikir dulu, soalnya harga makanan dan minuman di kafe juga naik terus,” ujar seorang pekerja swasta, Budi Santoso (30), yang enggan disebutkan nama kafenya.
Kondisi ini tidak hanya dialami oleh segelintir orang, tetapi menjadi tren yang cukup meluas di kalangan masyarakat perkotaan. Aktivitas tatap muka yang sebelumnya menjadi perekat hubungan pertemanan, kini terancam tergantikan oleh interaksi virtual yang minim biaya. Namun, tak sedikit pula yang merindukan kehangatan dan kedekatan yang hanya bisa didapatkan melalui pertemuan langsung.
Para pengamat ekonomi dan sosial menilai fenomena friendflation ini perlu menjadi perhatian. Selain berdampak pada kesejahteraan psikologis masyarakat yang membutuhkan interaksi sosial, hal ini juga bisa memengaruhi geliat ekonomi sektor kuliner dan hiburan. Diperlukan strategi dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun pelaku usaha, untuk mencari solusi agar masyarakat tetap bisa menjaga hubungan sosial tanpa terbebani oleh biaya hidup yang tinggi.
