Seorang wanita yang mengidentifikasi dirinya sebagai “Anya” menceritakan pengalaman mengerikan yang dialaminya saat berada di bawah kendali mendiang pemodal predator seksual, Jeffrey Epstein. Ia membeberkan bagaimana Epstein menggunakan berbagai taktik manipulatif, termasuk ancaman dan operasi bedah yang mengerikan, untuk mengontrol para “asisten” wanitanya. Kesaksian langka ini memberikan gambaran suram tentang “kultus” yang dibangun Epstein, di mana para korban dieksploitasi secara seksual dan psikologis.
Menurut “Anya”, Epstein memiliki kemampuan luar biasa dalam memikat dan menyalahgunakan para wanita muda. Ia mengaku direkrut sebagai “asisten” oleh Epstein pada tahun 2015, saat usianya masih 19 tahun. Epstein, yang kemudian dijatuhi hukuman karena kejahatan seksual terhadap anak di bawah umur, berhasil menciptakan lingkungan di mana para korban merasa terperangkap dan tidak berdaya. “Dia membangun sebuah sistem untuk mengontrol kita,” ujar Anya kepada BBC.
Taktik kontrol yang digunakan Epstein tidak hanya bersifat psikologis. “Anya” mengungkapkan adanya ancaman fisik dan tekanan untuk menjalani operasi bedah yang tidak perlu dan menyakitkan. Operasi-operasi ini, menurutnya, dirancang untuk mengubah penampilan fisik para korban, menambah lapisan kontrol dan dehumanisasi dalam lingkaran Epstein. “Dia menginginkan kita terlihat seperti boneka,” katanya, menggambarkan betapa mengerikannya pengalaman tersebut.
Kesaksian “Anya” menyoroti bagaimana Epstein memanfaatkan posisi kekuasaan dan kekayaannya untuk menciptakan jaringan eksploitasi. Ia berhasil membujuk para korban untuk percaya bahwa mereka memiliki pilihan, padahal kenyataannya mereka berada di bawah ancaman konstan. “Kami tidak tahu apa yang terjadi di luar sana,” jelasnya, menunjukkan isolasi yang diciptakan Epstein untuk memfasilitasi pelecehan yang berkelanjutan.
Kasus Jeffrey Epstein terus mengungkap sisi gelap dari individu-individu berkuasa yang mampu menyembunyikan kejahatan mereka di balik fasad kehidupan mewah. Kesaksian “Anya” ini menjadi pengingat penting akan perlunya kewaspadaan dan dukungan bagi para korban kekerasan seksual, serta pentingnya investigasi mendalam terhadap jaringan kejahatan semacam ini.
