Munculnya sebuah aliansi yang menamakan diri "BEM Bersatu" belakangan ini memicu gelombang klarifikasi dari berbagai organisasi mahasiswa di tanah air. Sejumlah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dari berbagai perguruan tinggi secara tegas membantah telah bergabung atau bahkan memberikan mandat kepada individu yang mengatasnamakan diri mereka dalam aliansi tersebut. Tudingan yang dilayangkan oleh BEM Bersatu, terutama terkait dugaan afiliasi politik eks Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto, menjadi sorotan utama yang justru dibantah keras oleh pihak-pihak yang namanya disebut.
Aliansi BEM Bersatu, dalam pernyataannya, mengklaim memiliki perwakilan dari berbagai kampus dan menuding Tiyo Ardianto, mantan Ketua BEM UGM, memiliki keterkaitan dengan partai politik tertentu. Narasi ini diperkuat dengan informasi mengenai kepemilikan mobil yang diduga digunakan Tiyo Ardianto, yang konon terdaftar atas nama Siti Nuraini, adik dari Letnan Jenderal TNI (Purnawirawan) Setyo Sularso. Setyo Sularso sendiri disebut-sebut sebagai besan dari Jenderal TNI (Purnawirawan) Andhika Perkasa, seorang kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang juga terlibat dalam tim pemenangan Pilpres 2024 untuk pasangan Ganjar Pranowo.
Menariknya, PDIP sendiri telah memberikan bantahan resmi terkait dugaan keterlibatan mereka dalam aksi kritik yang selama ini dilancarkan oleh Tiyo Ardianto, khususnya yang berkaitan dengan pelaksanaan program prioritas pemerintah seperti Proyek Makan Bergizi Gratis. Sementara itu, Tiyo Ardianto memilih untuk tidak memberikan tanggapan spesifik terkait tudingan yang bersifat personal tersebut, menegaskan fokusnya pada isu-isu substansial.
BEM Bersatu menyebutkan sejumlah nama individu yang mereka klaim sebagai perwakilan mahasiswa dan organisasi mahasiswa dari berbagai kampus. Di antara nama-nama yang disebutkan adalah Wildan Ricky dari BEM Fakultas Hukum Unisia, Muhammad Yani dari BEM Fakultas Hukum UIJ, Ardin Zulkifly sebagai Ketua BEM FISIP Universitas Nasional, Ardiansyah Ketua BEM Institut Al-Aqidah, Ahmad Ghazy dari BEM Psikologi Universitas Negeri Jakarta, serta Alfi selaku Ketua BEM FEB Universitas Pamulang.
Daftar tersebut belum berhenti di situ. BEM Bersatu juga mencatut nama Rahmat Djimbula yang mengklaim sebagai Ketua BEM Hukum UIC, Dicky dari BEM FIPS Unindra, Ahmad dari BEM Fakultas Teknik dan Informatika Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI), serta Rezky Anandar dari BEM Fakultas Ilmu Sosial dan Manajemen Administrasi Institut STIAMI. Namun, klaim ini langsung disambut dengan penolakan keras dari organisasi mahasiswa yang namanya disebut.
Salah satu yang pertama kali memberikan klarifikasi adalah BEM Fakultas Teknik dan Informatika Universitas Bina Sarana Informatika (BEM FTI UBSI). Melalui akun Instagram resmi mereka, @bemftiubsi, pada Rabu, 17 Juni 2026, organisasi ini dengan tegas menyatakan bahwa mereka tidak pernah mengirimkan perwakilan maupun menghadiri konferensi pers yang diselenggarakan oleh aliansi BEM Bersatu. Lebih lanjut, BEM FTI UBSI membantah keras adanya pengurus, anggota, atau ketua bernama Ahmad yang diklaim sebagai bagian dari BEM Bersatu. "BEM FTI UBSI tidak pernah memberikan mandat kepada pihak manapun untuk mewakili organisasi dalam kegiatan tersebut," tegas mereka dalam pernyataan tertulis.
Serupa, BEM Fakultas Psikologi Universitas Negeri Jakarta (BEM FPSI UNJ) juga membantah keras klaim aliansi tersebut. Melalui akun Instagram @bemfpsiunj, mereka menyatakan bahwa tidak ada perwakilan bernama Ahmad Ghazy yang dikirimkan untuk bergabung dalam BEM Bersatu. Organisasi ini menegaskan bahwa identitas mereka telah dicatut tanpa izin, sebuah tindakan yang dinilai melanggar etika organisasi. BEM FPSI UNJ juga mengklarifikasi bahwa Ahmad Ghazy merupakan alumni angkatan 2020 dan bukan lagi anggota atau pengurus pada tahun berjalan. "Tindakan maupun pandangan yang disampaikan merupakan tanggung jawab pribadi pihak tersebut," tulis mereka, memisahkan diri dari klaim yang dibuat BEM Bersatu.
Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Nasional (FISIP Unas) turut angkat bicara menanggapi klaim Ardin Zulkifly yang menyebut dirinya sebagai Ketua BEM FISIP Unas. Dalam pernyataan resminya, pihak fakultas secara tegas membantah klaim tersebut dan menyatakan bahwa FISIP Unas tidak memiliki organisasi BEM di tingkat fakultas. Kehadiran Ardin Zulkifly dalam aliansi BEM Bersatu, menurut FISIP Unas, merupakan tanggung jawab pribadi dan ia tidak memiliki kapasitas kelembagaan untuk mewakili fakultas berdasarkan jabatan yang diklaim.
Tak ketinggalan, BEM Fakultas Ilmu Pendidikan dan Pengetahuan Sosial Universitas Indraprasta PGRI (BEM FIPPS Unindra) juga melayangkan bantahan atas klaim Dicky yang menyebut mewakili organisasi mereka di aliansi BEM Bersatu. Melalui keterangan resmi yang dikeluarkan pada Kamis, 18 Juni 2026, BEM FIPPS Unindra menyatakan bahwa Dicky bukan merupakan bagian dari organisasi mereka. "Segala tindakan, pernyataan, maupun konsekuensi yang ditimbulkan merupakan tanggung jawab pribadi pihak yang bersangkutan," demikian bunyi pernyataan tersebut.
Lebih lanjut, BEM FIPPS Unindra menekankan komitmen mereka untuk senantiasa menjaga integritas dan independensi gerakan mahasiswa. Mereka berpandangan bahwa gerakan mahasiswa seharusnya menjadi wadah perjuangan yang berlandaskan nilai-nilai intelektual, penuh tanggung jawab, dan sejalan dengan kepentingan kolektif mahasiswa. Organisasi ini juga mengingatkan pentingnya penggunaan identitas kelembagaan yang dilakukan dengan semangat kebersamaan dan melalui koordinasi yang baik, sebuah prinsip yang tampaknya dilanggar oleh aliansi BEM Bersatu.
Peristiwa ini menyoroti dinamika politik di kalangan organisasi mahasiswa dan pentingnya verifikasi informasi yang akurat. Munculnya klaim yang tidak berdasar dan pencatutan nama organisasi secara sepihak dapat menimbulkan kesalahpahaman dan merusak reputasi lembaga mahasiswa yang telah berjuang membangun kredibilitasnya. Para pengamat gerakan mahasiswa mengharapkan agar setiap organisasi yang terlibat dalam forum-forum publik, apalagi yang bersifat advokasi, dapat senantiasa menjunjung tinggi transparansi dan akuntabilitas dalam setiap langkahnya.











