JAKARTA – Tingkat utilisasi atau pemanfaatan kapasitas industri manufaktur nasional masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi Kementerian Perindustrian (Kemenperin). Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Sekar A. Tanjung mengungkapkan sejumlah faktor yang menyebabkan kondisi ini.
Menurut Sekar, salah satu kendala utama adalah ketersediaan bahan baku. Industri manufaktur seringkali kesulitan mendapatkan pasokan bahan baku yang stabil dan berkualitas.
Ketergantungan pada impor bahan baku juga menjadi masalah serius. Hal ini membuat industri rentan terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah dan kondisi geopolitik global.
Selain itu, Sekar menyoroti infrastruktur yang belum merata di berbagai daerah. Konektivitas antarwilayah yang buruk menghambat distribusi bahan baku maupun produk jadi.
Biaya logistik yang tinggi akibat infrastruktur yang belum memadai turut menekan daya saing industri nasional.
Dalam pernyataannya pada Selasa (21/5/2024), Sekar menjelaskan bahwa tantangan ini perlu segera diatasi untuk meningkatkan kinerja sektor manufaktur.
Ia menambahkan, pemerintah terus berupaya mencari solusi agar utilisasi industri manufaktur dapat bergerak naik secara signifikan.
Peningkatan utilisasi diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional dan penciptaan lapangan kerja yang lebih luas.
Kemenperin bertekad untuk terus mendorong kebijakan yang dapat mempermudah akses bahan baku dan memperbaiki kualitas infrastruktur.
Fokus pada pengembangan industri substitusi impor juga menjadi salah satu strategi penting.
Tujuannya adalah mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar negeri.
Sekar menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, pelaku industri, dan pemangku kepentingan lainnya.
Sinergi ini krusial untuk menemukan jalan keluar dari stagnasi utilisasi industri.
Optimisme tetap dijaga agar sektor manufaktur dapat kembali bangkit dan berkontribusi lebih besar bagi perekonomian Indonesia.
