Wednesday, 15 July 2026
BREAKING
SEPAKBOLA

Paradoks Deschamps: Prancis Glamor Tapi Rapuh di Hadapan Elite

Oleh Herfansyah July 15, 2026 1 hour lalu 0 komentar

Prancis akhirnya melepaskan seluruh kekuatan serangannya di turnamen kali ini. Namun, ketika ujian sebenarnya datang melawan Spanyol, pertahanan mereka terlalu terbuka. Apakah Didier Deschamps justru benar selama ini?

Selama 14 tahun membesut timnas Prancis, Deschamps kerap dikritik karena terlalu berhati-hati. Ia dianggap memprioritaskan kontrol dan enggan mengeluarkan potensi penuh para pemain bintangnya.

Di turnamen terakhirnya sebagai pelatih timnas, Deschamps tampak melonggarkan taktiknya. Secara pribadi, ia tetap tampil garang dalam komentar publiknya.

Prancis memang menampilkan sepak bola yang memukau selama beberapa pekan terakhir. Namun, saat berhadapan dengan tim elite pertama yang mereka temui, Prancis justru kewalahan.

Mungkin, Prancis justru membutuhkan sedikit lebih banyak gaya Deschamps yang klasik. Ini adalah sebuah paradoks yang muncul di turnamen ini.

Semakin baik Prancis bermain, semakin sia-sia delapan tahun sejak mereka memenangkan Piala Dunia. Kekaguman atas kehebatan serangan mereka di Amerika Serikat (merujuk pada kemenangan Piala Dunia 2018) tercoreng oleh penyesalan.

Penyesalan atas potensi keindahan dan kegembiraan yang telah ditolak oleh keras kepala Deschamps selama dekade terakhir.

Ini adalah Prancis yang seharusnya mereka tunjukkan sejak dulu. Bermain dengan penuh semangat dan gaya. Mereka membangkitkan perbandingan yang sah dengan timnas Prancis legendaris di awal hingga pertengahan tahun 80-an.

Namun, di momen krusial, kebebasan menyerang itu justru menjadi bumerang. Pertahanan yang terlalu terbuka membuat mereka rentan.

Pelatih asal Prancis itu selalu menekankan keseimbangan antara serangan dan pertahanan. Pendekatan yang telah memberinya kesuksesan besar, termasuk gelar juara dunia pada 2018.

Namun, dalam edisi turnamen kali ini, Deschamps seolah mencoba merombak total pendekatannya. Ia membiarkan para penyerang bintangnya berkreasi lebih bebas.

Hasilnya, tim berjuluk Les Bleus itu menampilkan permainan yang lebih atraktif dan menghibur. Gol-gol indah tercipta, dan banyak yang memuji evolusi gaya bermain Prancis.

Akan tetapi, saat menghadapi Spanyol yang terorganisir dengan baik, kelemahan pertahanan mereka terekspos. Serangan balik cepat dan transisi permainan yang efisien dari Spanyol mampu membongkar pertahanan Prancis.

Kekalahan ini menimbulkan pertanyaan apakah Deschamps seharusnya tetap berpegang pada prinsip awalnya. Apakah ia terlalu cepat melepaskan ‘kekangan’ yang telah terbukti sukses?

Para pengamat sepak bola berpendapat bahwa Prancis di bawah Deschamps selalu memiliki kemampuan untuk bermain atraktif. Namun, sang pelatih selalu memilih pendekatan yang lebih pragmatis demi menjaga stabilitas tim.

Keputusan Deschamps untuk mengubah gaya bermain di akhir masa jabatannya ini memunculkan perdebatan sengit. Apakah ini adalah langkah berani menuju evolusi, atau justru sebuah kesalahan fatal?

Terlepas dari hasilnya, turnamen ini akan dikenang sebagai penampilan Prancis yang paling menghibur dalam beberapa waktu terakhir. Namun, pertanyaan tentang keseimbangan taktik akan terus menghantui warisan Deschamps.

Bagikan: Facebook X WhatsApp

Artikel Terkait