Filipina Perkuat Pertahanan Laut Natuna Utara, Kirim Armada Canggih Hadapi Agresi China

Emanuel

Jakarta – Filipina mengumumkan langkah strategis signifikan untuk memperkuat pertahanan di dua pangkalan militer vital. Langkah ini diambil sebagai respons langsung terhadap meningkatnya ketegangan di Laut China Selatan, khususnya terkait klaim agresif China.

Angkatan Udara Filipina berencana memodernisasi fasilitas di pulau terdepan. Tujuannya jelas: meningkatkan kemampuan pengawasan dan respons terhadap aktivitas maritim China.

Manila tidak hanya berfokus pada infrastruktur darat. Mereka juga akan mengakuisisi pesawat patroli jarak jauh. Helikopter angkut medium Black Hawk dan helikopter Bell 412EPX untuk misi SAR juga masuk dalam daftar pengadaan.

Selain itu, radar pengawas mutakhir akan dipasang. Ini krusial untuk memperkuat pemantauan maritim di wilayah sengketa yang menjadi titik krusial.

Komandan Angkatan Udara Filipina, Letnan Jenderal Arthur Cordura, menegaskan komitmen ini. "Armada baru akan mendongkrak kemampuan negara dalam mengawasi dan merespons pergerakan lawan," ujarnya. Ia secara spesifik menyoroti lonjakan aktivitas kapal penjaga pantai dan angkatan laut China.

Peningkatan fasilitas akan difokuskan pada dua lokasi strategis. Pertama, Pulau Thitu, yang dikenal Filipina sebagai Pag-asa. Pulau ini adalah pulau alami terbesar kedua di Kepulauan Spratly. Ini menjadi satu-satunya pulau di gugusan itu dengan populasi sipil permanen dan pangkalan militer Filipina.

Lokasi kedua adalah Santa Ana, di provinsi utara Cagayan. Wilayah ini berdekatan dengan Selat Luzon, jalur logistik vital dekat Taiwan. Keberadaannya dinilai krusial bagi AS dalam skenario konflik di masa depan.

Santa Ana menjadi salah satu dari empat lokasi baru di bawah Perjanjian Kerja Sama Pertahanan yang Ditingkatkan (EDCA) antara AS dan Filipina. Perjanjian ini memberi AS akses rotasi penuh ke pangkalan militer Filipina.

Filipina memiliki perjanjian pertahanan bersama dengan AS selama puluhan tahun. Ketegangan yang terus memuncak di kawasan ini menimbulkan kekhawatiran global.

Di bawah pemerintahan sebelumnya, AS telah memperdalam kemitraan militer dengan Filipina. Latihan perang Balikatan terbesar, pengerahan rudal, dan patroli bersama dilakukan.

Beijing berulang kali melayangkan protes keras terhadap keterlibatan AS. China menuduh Filipina dimanfaatkan sebagai bidak dalam strategi geopolitik AS.

Namun, beberapa analis militer China meragukan komitmen penuh AS. Mereka menilai kehadiran militer AS di sana memiliki nilai guna terbatas.

"Tujuan utama penguatan akses militer ini bukanlah persiapan nyata untuk perang," analisis dari lembaga kajian South China Sea Strategic Situation Probing Initiative. "Melainkan sebuah sikap strategis, pembendungan, dan atrisi."

Penguatan ini memanfaatkan keunggulan geografis Filipina. Tujuannya untuk memperkuat posisi pasukan AS di sekitar Laut China Selatan dan Selat Taiwan.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All