Menghadapi Meksiko di stadion legendaris Azteca bukan sekadar pertandingan biasa bagi timnas Inggris. Kondisi geografis yang ekstrem dan kekuatan tuan rumah membuat ekspektasi terhadap The Three Lions kini tertuju pada tingkat yang jauh lebih realistis.
Kondisi ketinggian di Mexico City, yang mencapai sekitar 2.200 meter di atas permukaan laut, menjadi tantangan utama. Pengalaman penulis pada tahun 2009 di Bolivia, di ketinggian hampir 4.000 meter, memberikan gambaran betapa beratnya beradaptasi. Bermain melawan petani lokal yang terbiasa dengan kondisi tersebut, tim yang lebih muda dan bugar justru kalah telak. Hal ini menekankan bahwa "altitude" bukan sekadar faktor geografis, melainkan senjata ampuh tim tuan rumah.
Para ahli berpendapat, Inggris membutuhkan waktu adaptasi yang signifikan. Pilihan untuk tiba hanya sesaat sebelum pertandingan atau di jeda babak pertama dinilai sebagai upaya "menipu" tubuh agar bisa bermain maksimal sebelum efek mabuk ketinggian menyerang. Kualitas udara yang tipis dapat memengaruhi stamina pemain secara drastis.
Ketinggian Azteca diprediksi akan berdampak pada setiap pemain, termasuk Dan Burn yang tingginya 2.202 meter di atas permukaan laut. Pengalaman timnas Ekuador yang terganggu tidurnya akibat kebisingan lokal menjadi pengingat betapa krusialnya persiapan non-teknis.
Dalam podcast World Cup Daily, bahkan muncul ide kreatif untuk menyiasati kondisi ini. Menggunakan aktor dari drama "Dear England" untuk mengisi hotel resmi dan menyelinapkan pemain inti ke akomodasi yang lebih sederhana diusulkan agar para pemain kunci bisa beristirahat optimal.
Kesadaran akan sulitnya pertandingan ini semakin menguat. Timnas Meksiko dinilai memiliki kualitas lebih baik dari Inggris. Meskipun Inggris memiliki banyak pemain berkualitas, mereka juga menghadapi berbagai permasalahan internal.
Sorotan terhadap posisi bek kanan Inggris, yang sempat menjadi perdebatan setelah laga melawan Republik Demokratik Kongo, menunjukkan adanya kerentanan struktural di lini pertahanan dan tengah. Kesalahan positioning Djed Spence dalam sebuah momen krusial menjadi bukti adanya masalah koordinasi tim yang perlu segera diatasi.
Menempatkan Declan Rice di posisi bek kanan dianggap sebagai risiko besar. Keputusan taktis terkait duet bek tengah, apakah tetap mempertahankan Marc Guéhi dan Ezri Konsa atau memasang John Stones, akan sangat krusial.
Perdebatan mengenai performa winger, seperti Noni Madueke dan Marcus Rashford versus Bukayo Saka dan Anthony Gordon, juga mewarnai analisis. Namun, pergantian pemain tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan performa. Para winger Inggris belum menunjukkan penampilan yang benar-benar mengesankan, apalagi minimnya ruang di belakang pertahanan lawan.
Menghadapi Meksiko yang memulai pertandingan dengan intensitas tinggi, strategi bertahan dalam mungkin menjadi pilihan. Menghemat energi dan memanfaatkan serangan balik, dengan Harry Kane berperan sebagai penghubung, bisa menjadi kunci. Memberikan kesempatan kepada para winger untuk bergiliran "menguras" energi lawan juga bisa dipertimbangkan.
Jika Inggris tersingkir di Mexico City, hal itu tidak akan dianggap sebagai aib besar. Kemenangan di Azteca akan menjadi pencapaian luar biasa. Namun, jika berhasil melaju, lawan-lawan berikutnya seperti Brasil, Argentina, dan Prancis di dataran rendah akan menjadi ujian sesungguhnya.











