Lima Puluh Hari Pasca Pemilu, Keiko Fujimori Dipastikan Pimpin Peru. Calon dari sayap kanan, Keiko Fujimori, akhirnya dinyatakan sebagai pemenang dalam pemilihan presiden Peru yang berlangsung sengit. Pengumuman ini baru keluar hampir sebulan setelah pemungutan suara dilaksanakan.
Dengan perolehan 50,135% suara, Fujimori mengungguli kandidat sayap kiri, Roberto Sánchez, yang mendapat 49,865%. Selisih suara yang tipis, kurang dari 50.000, mengkonfirmasi hasil yang dirilis oleh pengadilan pemilu Peru. Ini menjadi kali keempat Fujimori, putri mantan Presiden Alberto Fujimori, berupaya menduduki jabatan tertinggi di negara Amerika Selatan tersebut.
Dalam kampanyenya, Fujimori menjanjikan tindakan tegas terhadap kejahatan terorganisir. Kemenangannya ini, bertepatan dengan terpilihnya Abelardo de la Espriella di Kolombia, menandai pergeseran politik di Amerika Latin ke arah kanan.
"Saya akan memegang jabatan presiden dengan penuh tanggung jawab, kerendahan hati, dan kesadaran tugas yang mendalam," ujar Fujimori. Ia menambahkan, "Setiap hari dalam proses transisi ini adalah kesempatan untuk mendengarkan, berdialog, dan mempersiapkan diri."
Pihak Sánchez, 57 tahun, sebelumnya sempat menuduh pemilihan umum "terkompromi secara serius". Mereka mengancam akan mengambil langkah hukum, dengan argumen bahwa dukungan kuat untuk Fujimori di kalangan pemilih Peru di luar negeri mengindikasikan adanya kejanggalan. Setelah hasil resmi diumumkan Jumat lalu, partai Sánchez mengajukan banding terhadap keputusan pengadilan pemilu.
Berbeda dengan Sánchez yang mengusung reformasi ekonomi, Fujimori berhasil memanfaatkan kekhawatiran publik terhadap isu kejahatan dan ketidakstabilan politik. Ia juga memanfaatkan warisan kontroversial ayahnya, yang pernah dipenjara atas kejahatan terhadap kemanusiaan.
Fujimori berjanji akan memberantas kejahatan terorganisir, terutama pemerasan yang meningkat tajam. Ia juga berkomitmen menarik investasi swasta demi pertumbuhan ekonomi. Selain itu, ia akan segera mendeportasi imigran gelap yang melakukan kejahatan di Peru.
Sebelumnya, Fujimori telah kalah dalam pemilihan umum tahun 2011, 2016, dan 2021 dengan selisih suara yang juga ketat. Periode tersebut diwarnai ketidakstabilan politik di Peru. Ia akan menjadi presiden kesembilan Peru dalam satu dekade terakhir. Upacara pelantikannya dijadwalkan pada 28 Juli.
Terpilihnya Fujimori sejalan dengan tren pemimpin sayap kanan di Amerika Latin yang semakin berkuasa. Di Kolombia, presiden terpilih Abelardo de la Espriella juga menang dengan selisih tipis, dengan janji memerangi kejahatan terorganisir. Pemimpin lain seperti Nayib Bukele (El Salvador) dan Daniel Noboa (Ekuador) menunjukkan arah serupa. Fenomena ini menempatkan Luiz Inácio Lula da Silva dari Brazil sebagai representasi utama sayap kiri di kawasan tersebut.











