Dunia aktivisme kehilangan sosok pemberani. Lam Wing-kee, penjual buku asal Hong Kong yang dikenal gigih melawan represi otoriter, dikabarkan meninggal dunia pada Kamis malam di Taipei, Taiwan.
Sebelum wafat, Lam sempat dilarikan ke Mackay Memorial Hospital pada Selasa lalu setelah mengalami kondisi kritis hingga jatuh koma. Berita duka ini pertama kali dilaporkan oleh South China Morning Post yang mengutip media lokal Taiwan.
Kepergian Lam menuai simpati luas, termasuk dari Presiden Taiwan, Lai Ching-te. Melalui unggahan di Facebook, Lai menyatakan duka cita mendalam bagi keluarga dan kerabat yang ditinggalkan.
Lai mengenang Lam sebagai sosok yang menjadi saksi nyata nilai kebebasan berekspresi. Ia juga menyoroti bagaimana Lam tetap bertahan meski harus menanggung penderitaan akibat penindasan otoriter.
Alih-alih memilih bungkam, Lam mendirikan kembali Causeway Bay Books di Taiwan. Toko buku itu kini menjadi ruang aman bagi sesama warga Hong Kong untuk berkumpul dan saling mendukung.
Nama Lam Wing-kee mencuat ke publik dunia pada 2015. Kala itu, ia ditangkap saat berkunjung ke Tiongkok daratan dan ditahan selama lebih dari 400 hari tanpa proses hukum yang transparan.
Ia merupakan satu dari beberapa pemilik serta staf toko buku di Hong Kong yang menghilang secara misterius. Mereka diduga ditahan otoritas Tiongkok karena menjual publikasi kritis terhadap pemimpin negara tersebut.
Setelah dibebaskan, Lam mengungkapkan bahwa pengakuan yang sempat disiarkan di televisi Tiongkok hanyalah rekayasa. Menurutnya, skenario tersebut dipaksakan kepadanya selama masa penahanan.
Kasus yang menimpa Lam memicu kekhawatiran global mengenai terkikisnya kebebasan di Hong Kong. Ketakutan inilah yang kemudian menjadi salah satu pemicu aksi protes massa besar-besaran di Hong Kong pada 2019 silam.
Dalam wawancara terakhirnya dengan BBC Witness History tahun lalu, Lam sempat menitipkan pesan moral yang mendalam. Ia menegaskan pentingnya integritas bagi setiap individu.
Menurut Lam, setiap orang memiliki nilai-nilai yang harus dipegang teguh. Ia berpesan agar seseorang tidak mengkhianati prinsipnya sendiri selama apa yang dilakukan tidak merugikan orang lain.
Baginya, jika setiap individu berani memegang teguh kebenaran, dunia akan menjadi tempat yang jauh lebih baik. Prinsip hidup tersebut ia pegang hingga akhir hayatnya di pengasingan.
Kepergian Lam Wing-kee menjadi pengingat bagi banyak pihak tentang perjuangan panjang menjaga kebebasan sipil. Meski sosoknya telah tiada, semangat perlawanan yang ia tanamkan akan terus dikenang.











