Jakarta – Kehadiran Steam Machine besutan Valve belakangan ini menjadi sorotan tajam di industri game. Meski stoknya ludes terjual dan harganya melambung hingga USD 3.000 atau sekitar Rp 49 juta di pasar gelap, perangkat ini justru menuai kritik pedas dari tokoh veteran industri.
Salah satu suara paling vokal datang dari Shuhei Yoshida, mantan Presiden SIE Worldwide Studios di Sony. Melalui akun media sosialnya, ia secara terbuka menyebut pengalaman menggunakan konsol tersebut sangat mengecewakan.
Bahkan, Yoshida tidak segan menyindir kualitas performa Steam Machine. Ia melontarkan pertanyaan retoris apakah dirinya sedang kembali ke era konsol PlayStation 4 yang sudah berumur.
Sebagai sosok yang ikut membeli perangkat ini di peluncuran resmi, Yoshida mengaku telah mencobanya selama beberapa jam. Namun, ulasan jujur yang ia bagikan jauh dari kata positif.
Masalah utama yang disorot adalah performa sistem yang dinilai kurang memuaskan. Yoshida merasa terganggu karena pengaturan grafis bawaan perangkat tersebut terkunci pada resolusi 1080p.
Keluhan ini sejalan dengan polemik klaim 4K yang sempat digaungkan Valve. Sebelumnya, perusahaan menjanjikan kemampuan menjalankan game di resolusi 4K pada 60 fps berkat teknologi FSR.
Kenyataannya, target tersebut hanya bisa dicapai jika pengguna menurunkan pengaturan grafis ke tingkat paling rendah. Banyak game berat bahkan gagal mencapai angka 4K/60fps yang dijanjikan.
Kritik tajam dari komunitas dan pengulas memaksa Valve melakukan revisi diam-diam pada materi promosi mereka. Kini, mereka mengubah kalimat promosi menjadi lebih realistis, yakni "Up to 4K gaming with FSR 4.1".
Selain masalah visual, Yoshida juga mengeluhkan waktu booting sistem yang terasa lambat. Ia juga menyoroti kualitas fisik perangkat, khususnya stick analog pada Steam Controller yang dirasa longgar.
Meski begitu, ia tetap memberikan apresiasi pada beberapa aspek. Yoshida memuji kemudahan antarmuka pengguna, fitur menyalakan konsol via controller, serta bodi yang bisa dikustomisasi.
Ia pun memutuskan untuk tetap menyimpan perangkat tersebut. Baginya, kemampuan memainkan pustaka game Steam langsung dari ruang tamu memiliki nilai tersendiri.
Namun, ia menegaskan sulit untuk merekomendasikan Steam Machine kepada orang lain. Mengingat harga jual resminya saja sudah mencapai USD 1.049 atau sekitar Rp 17,1 juta.
Ironisnya, meski banyak pengulas menganggapnya mahal dan kurang bertenaga, permintaan pasar tetap tinggi. Bagi konsumen yang tidak kebagian stok resmi, mereka terpaksa menebusnya di eBay dengan harga hingga tiga kali lipat lebih mahal.











