Penderita migrain perlu lebih waspada terhadap kesehatan jangka panjang mereka. Sebuah studi terbaru yang dipaparkan pada pertemuan ilmiah tahunan American Headache Society ke-68 mengungkapkan adanya kaitan erat antara migrain dengan peningkatan risiko demensia vaskular.
Temuan ini dipresentasikan oleh Kensei Maeda, seorang mahasiswa doktoral dari Ferkauf Graduate School of Psychology di Yeshiva University. Bersama tim penelitinya, ia menganalisis data dari kohort veteran di Amerika Serikat untuk membedah hubungan antara gangguan sakit kepala sebelah ini dengan risiko penurunan kognitif.
Penelitian tersebut melibatkan 729.391 pasien dengan usia rata-rata 61,2 tahun yang terdaftar di Veterans Health Administration antara tahun 2008 hingga 2021. Hasilnya menunjukkan bahwa pasien dengan riwayat migrain memiliki risiko demensia vaskular yang jauh lebih tinggi dibandingkan mereka yang tidak pernah mengalami migrain.
Meski demikian, Maeda menegaskan bahwa pasien migrain dalam kelompok studi ini tidak menunjukkan peningkatan risiko yang signifikan untuk penyakit Alzheimer. Analisis mendalam menunjukkan bahwa risiko demensia vaskular tetap bertahan bahkan setelah peneliti melakukan penyesuaian terhadap komorbiditas psikiatri maupun vaskular.
Salah satu temuan yang cukup mengejutkan adalah pengaruh usia. Pasien berusia 65 tahun ke bawah dengan migrain justru memiliki kaitan lebih kuat terhadap risiko demensia dibandingkan kelompok usia yang lebih tua. Hal ini menggarisbawahi pentingnya penanganan migrain sejak usia dini.
Elizabeth K. Seng, profesor madya di Ferkauf Graduate School of Psychology, menjelaskan bahwa perubahan kardiovaskular kemungkinan besar menjadi benang merah yang menghubungkan migrain dengan risiko demensia. Menurutnya, migrain selama ini sering dianggap remeh sebagai gangguan sakit kepala biasa, padahal kondisi ini bisa berdampak serius pada kesehatan pembuluh darah.
Penelitian ini juga menyoroti pentingnya skrining migrain secara rutin, terutama pada pria yang selama ini sering kurang terwakili dalam riset migrain. Mengingat sekitar sepertiga penderita migrain adalah pria, para ahli mendesak klinisi untuk tidak mengabaikan gejala ini saat pemeriksaan medis.
Para peneliti merekomendasikan agar tenaga medis lebih agresif dalam menangani migrain. Selain itu, dokter disarankan untuk rutin memeriksa faktor risiko vaskular lainnya seperti hipertensi, stroke iskemik, dan penyakit jantung pada pasien migrain, terlepas dari berapapun usia mereka.
Langkah selanjutnya, tim peneliti berencana melakukan studi longitudinal dengan memanfaatkan biomarker guna mendiagnosis demensia secara lebih akurat. Harapannya, temuan ini dapat mendorong perubahan pola pikir medis dalam memandang migrain bukan hanya sekadar keluhan nyeri kepala, melainkan indikator kesehatan vaskular yang memerlukan perhatian serius sejak dini.











