Menjelang Usia 250 Tahun, Masih Adakah ‘American Dream’ bagi Warga Amerika?

Yohanes

Amerika Serikat bersiap merayakan hari jadi ke-250 tahun. Namun, di balik perayaan tersebut, muncul pertanyaan besar mengenai eksistensi American Dream atau impian Amerika yang selama ini menjadi magnet bagi jutaan orang di seluruh dunia.

Abdi Nor Iftin, seorang pengungsi asal Somalia yang kini menjadi warga negara AS, merasakan betul perubahan tersebut. Pada 2013, ia adalah satu dari 50 ribu orang yang beruntung mendapatkan visa melalui skema keragaman setelah bersaing dengan delapan juta pendaftar.

Pria berusia 41 tahun yang menetap di Maine itu sempat menganggap Amerika sebagai tanah impian. Namun, realita pahit menghantamnya tahun ini setelah ia kehilangan pekerjaan di lembaga penempatan pengungsi dan kehilangan akses asuransi kesehatan.

Abdi mengungkapkan bahwa American Dream saat ini memang masih ada, tetapi tidak dalam kondisi baik. Kondisi serupa dirasakan Luke Mullen, aktor berusia 24 tahun asal California. Ia justru berencana pindah ke Kanada karena minimnya peluang kerja di Hollywood.

Menurut Mullen, kekayaan kini terpusat di segelintir pihak sehingga peluang bagi orang biasa semakin menipis. Banyak warga Amerika kini merasa bahwa janji akan masa depan cerah melalui kerja keras dan kepatuhan pada aturan mulai memudar.

Survei dari Associated Press-NORC memperkuat sentimen tersebut dengan catatan hanya sepertiga publik yang meyakini American Dream masih ada. Studi Pew Research Center bahkan menunjukkan mayoritas warga Amerika merasa masa keemasan negara mereka telah berlalu.

Konsep American Dream sendiri tidak selalu tentang kemewahan atau mobil mewah. Sejarawan James Truslow Adams pada 1931 mendefinisikannya sebagai tatanan sosial di mana setiap individu dapat mencapai potensi maksimal mereka.

Meski begitu, ekonomi menjadi tolok ukur utama saat ini. Riset ekonom Harvard, Raj Chetty, menemukan bahwa anak-anak kelahiran 1940 memiliki peluang 90 persen untuk berpenghasilan lebih besar dari orang tua mereka. Kini, bagi generasi kelahiran 1980-an, peluang tersebut turun drastis menjadi hanya 50 persen.

Penurunan ini diduga terjadi sejak tahun 1970-an akibat globalisasi dan stagnasi upah. Krisis finansial 2008 kemudian memperparah kondisi tersebut, membuat kepemilikan rumah dan stabilitas pekerjaan menjadi barang mewah.

Di tengah polarisasi politik yang tajam, banyak warga Amerika mulai melirik negara lain. Tercatat, jumlah warga AS yang pindah ke Irlandia kini melampaui jumlah warga Irlandia yang masuk ke Amerika. Tren serupa terlihat pada peningkatan permohonan kewarganegaraan Inggris oleh warga Amerika.

Meski diterpa pesimisme, masih ada pihak yang optimis. Brandon Patty, seorang komandan cadangan Angkatan Laut, tetap meyakini impian tersebut nyata. Ia merasa diberkati bisa tumbuh dan berjuang di Amerika.

Di tengah ketidakpastian, Abdi Nor Iftin pun mengaku tetap mencintai Amerika. Baginya, jika harus memilih kembali, ia tetap akan menetap di sana meski harus menghadapi tantangan hidup yang nyata.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All