Asosiasi Medis Amerika atau AMA kembali mendesak Kongres Amerika Serikat untuk segera mengesahkan serangkaian reformasi pembayaran bagi para dokter. Langkah ini dianggap krusial untuk meningkatkan kompensasi medis sekaligus memastikan akses layanan kesehatan yang lebih luas bagi masyarakat.
Dalam pertemuan Komite Energi dan Perdagangan DPR AS pada Mei lalu, AMA menegaskan bahwa pendapatan dokter telah merosot tajam sebesar 33 persen sejak tahun 2001 setelah disesuaikan dengan inflasi. Organisasi tersebut menyoroti fakta bahwa dokter merupakan satu-satunya penyedia layanan Medicare yang tidak memiliki mekanisme penyesuaian pembayaran tahunan otomatis berbasis inflasi.
Kondisi ini memaksa banyak praktik dokter, terutama di wilayah pedesaan, untuk membatasi jumlah pasien Medicare atau bahkan gulung tikar. Sebagai respons, Komisi Penasihat Pembayaran Medicare merekomendasikan kenaikan pembayaran sebesar 0,5 persen untuk dokter pada tahun 2027. Kenaikan ini bersifat tambahan di luar penyesuaian 0,25 persen dan 0,75 persen untuk sistem pembayaran alternatif atau APM yang sudah diatur dalam undang-undang saat ini.
Namun, sistem yang berlaku saat ini dinilai memiliki cacat fundamental. Christopher P. Childers dari University of Washington menyebutkan bahwa mekanisme netralitas anggaran Medicare tidak berlaku bagi rumah sakit atau pusat bedah. Akibatnya, setiap kenaikan biaya untuk perawatan primer harus dikompensasi dengan pemotongan di sektor lain. Hal ini memicu persaingan tidak sehat antar spesialisasi.
Selain masalah anggaran, beban administratif program Merit-based Incentive Payment System atau MIPS juga menjadi sorotan. AMA mencatat bahwa kepatuhan terhadap MIPS memakan biaya sekitar 12.800 dolar AS per dokter setiap tahun dengan durasi pengerjaan mencapai 202 jam. Program ini dianggap sangat memberatkan praktik mandiri dan kecil yang tidak memiliki sumber daya sebesar sistem kesehatan besar.
Stephanie Quinn dari Akademi Dokter Keluarga Amerika menambahkan bahwa sistem saat ini masih terjebak pada pembayaran berbasis prosedur. Padahal, tugas esensial seperti koordinasi perawatan dan konseling pasien sering kali tidak dihargai secara layak. Ketimpangan nilai antara tindakan prosedural dan perawatan berbasis hubungan ini memperburuk stabilitas keuangan dokter keluarga.
Meskipun perubahan terbaru pada Jadwal Biaya Dokter Medicare dianggap sebagai langkah ke arah yang benar, Quinn menegaskan bahwa reformasi yang lebih luas tetap dibutuhkan. Tanpa perubahan signifikan, pasien terancam menghadapi waktu tunggu yang lebih lama dan keterbatasan pilihan layanan, terutama di daerah yang kurang terlayani.
Untuk mendorong perubahan tersebut, para tenaga medis didorong untuk aktif memberikan masukan kepada pembuat kebijakan. Mereka diharapkan dapat membagikan realita di lapangan mengenai dampak ketidakstabilan pembayaran terhadap akses pasien. Langkah ini dipandang sebagai kunci untuk menjaga keberlangsungan praktik mandiri agar tetap menjadi pilihan yang layak di masa depan.











