Menelusuri Ketegangan di Selat Hormuz: Wajah Bandar Abbas di Balik Gencatan Senjata

Yohanes

Suasana mencekam perlahan memudar di Bandar Abbas, Iran. Kota pelabuhan strategis ini mulai menunjukkan denyut kehidupan normal setelah berbulan-bulan diselimuti bayang-bayang perang. Selat Hormuz, jalur krusial bagi lalu lintas energi dunia, kini tampak lebih tenang menyusul adanya kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat.

Namun, ketenangan ini terasa rapuh. Saat tim jurnalis berkesempatan menelusuri selat tersebut, sisa-sisa konflik masih terlihat jelas. Dua kapal kontainer, MSC Francesca berbendera Panama dan Epaminondas berbendera Liberia, masih tertahan. Kapal-kapal ini disita oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada April lalu dengan tuduhan melanggar izin navigasi.

Di perairan sekitar, puluhan kapal kargo tampak mengantre. Mereka menunggu izin otoritas Iran untuk melintas di jalur yang selama ini menjadi medan taruhan geopolitik global. Ketegangan sempat memuncak ketika AS dan Israel melancarkan serangan pada 28 Februari. Iran merespons dengan memblokir selat, memicu lonjakan harga energi dunia.

Dampak konflik nyata terasa di daratan. Di Jalan Khushnoodi, sebuah blok apartemen hancur lebur akibat serangan udara Israel pada 26 Maret. Sebanyak tiga orang dilaporkan tewas dalam insiden tersebut. Target serangan itu disebut-sebut adalah komandan Angkatan Laut IRGC, Alireza Tangsiri, yang kemudian dikonfirmasi tewas empat hari pascaserangan.

Data dari Armed Conflict Location and Event Data Project (Acled) mencatat setidaknya 96 serangan AS terjadi di sekitar Bandar Abbas antara 28 Februari hingga 8 April. Serangan-serangan ini menyasar infrastruktur militer, termasuk fasilitas IRGC, lokasi rudal, hingga pangkalan udara di Bandara Internasional Bandar Abbas.

Wali Kota Bandar Abbas, Mehdi Nobani, menegaskan bahwa Iran tidak melemah akibat konflik ini. Ia mengeklaim penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi baru justru semakin menyatukan Iran. Meski gencatan senjata sedang berlaku, ia memberi peringatan keras bahwa Iran siap menutup kembali Selat Hormuz jika kesepakatan damai ini goyah.

Di pasar tradisional, warga mengungkapkan ketakutan mendalam mereka. Fatemeh, seorang pedagang buah berusia 55 tahun, mengaku kehilangan pendapatan karena putranya kehilangan pekerjaan akibat perang. Ia dan warga lainnya berharap gencatan senjata ini dapat bertahan lama agar kehidupan ekonomi mereka bisa pulih kembali.

Kini, nasib Selat Hormuz masih menjadi poin tawar utama dalam perundingan antara Iran dan AS. Bagi dunia, ini adalah masalah ekonomi global. Namun bagi warga Bandar Abbas, ini adalah tentang bertahan hidup di tengah ancaman serangan udara dan ketidakpastian masa depan.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All