British Museum kini tengah menjadi sorotan dunia internasional. Institusi budaya ternama di Inggris ini dituduh menghapus istilah Palestina serta penyebutan warga Palestina dari koleksi pameran mereka.
Langkah tersebut diduga kuat merupakan buntut dari tekanan dan lobi yang dilakukan oleh pendukung Israel selama berbulan-bulan. Meski demikian, pihak British Museum membantah keras adanya penghapusan sistematis tersebut.
Juru bicara British Museum memberikan klarifikasi kepada Middle East Eye pada Kamis (2/7). Pihaknya menegaskan bahwa tuduhan penghapusan istilah Palestina adalah tidak benar.
Menurut juru bicara tersebut, museum masih terus menggunakan istilah Palestina di berbagai galeri, baik untuk koleksi kontemporer maupun historis. Namun, fakta di lapangan menunjukkan narasi yang berbeda.
Museum ini sebelumnya menuai kritik tajam setelah mengubah teks penjelasan terkait bangsa dinasti Hyksos. Penjelasan yang semula menyebut mereka berasal dari Palestina diganti menjadi berasal dari Kanaan.
Selain itu, kalimat mengenai pendudukan Israel kuno juga dihapus karena dianggap mengandung muatan politis. Perubahan lain terlihat pada peta modern di pintu masuk galeri Levant Kuno.
Dalam peta tersebut, nama Palestina Modern telah dihilangkan dari daftar negara. Posisinya kini diganti dengan keterangan wilayah Gaza dan Tepi Barat.
Awalnya, British Museum berdalih perubahan dilakukan sebagai uji coba audiens untuk melihat apakah istilah tersebut netral dan mudah dipahami. Namun, investigasi Middle East Eye menemukan bahwa museum tidak pernah melakukan riset atau uji coba terkait hal itu.
Saat dimintai data hasil riset tersebut, pihak museum mengaku tidak memilikinya. Laporan MEE mengungkap bahwa keputusan ini diambil karena desakan dari kelompok pro-Israel, termasuk pengacara pro-Israel di Inggris atau UKLFI.
Berdasarkan analisis email internal yang telah disensor, ditemukan keterlibatan tokoh publik dan aktivis dalam melobi museum. Pengaduan datang dari berbagai pihak, mulai dari mantan editor Daily Mail hingga Dewan Perwakilan Yahudi Inggris.
Keluhan-keluhan tersebut diajukan lebih dari 14 bulan sebelum intervensi UKLFI dipublikasikan. Para pengadu berargumen bahwa penyertaan istilah pendudukan Israel pada teks bangsa Fenisia era 2.000 tahun lalu dapat memicu kebencian.
Dalam satu kasus, museum bahkan merespons pengaduan pribadi dari Dewan Perwakilan Yahudi kurang dari lima jam setelah pesan diedarkan secara internal. Staf museum sempat diingatkan untuk memperhatikan peringatan serangan 7 Oktober.
Namun, tidak ada perhatian serupa yang diberikan terkait kondisi warga Palestina yang sedang menghadapi genosida. Wakil direktur Kampanye Solidaritas Palestina, Peter Leary, menilai insiden ini sebagai upaya sistematis untuk menghilangkan sejarah Palestina.
Leary menyayangkan hal ini terjadi di tengah kehancuran situs bersejarah, universitas, dan lembaga budaya di Gaza. Hingga kini, kontradiksi antara pernyataan resmi museum dan bukti email internal terus memicu perdebatan panjang.











