Militer Israel melancarkan serangkaian serangan udara intensif di wilayah Lebanon selatan. Agresi terbaru ini dilaporkan menyasar sejumlah rumah warga hingga area di sekitar fasilitas kesehatan.
Tindakan militer ini tetap dilakukan Israel meskipun kedua belah pihak sebelumnya telah menyepakati kerangka kerja untuk membahas proses perdamaian.
Kantor berita Lebanon NNA, sebagaimana dilansir Anadolu Agency, melaporkan sebuah pesawat tak berawak atau drone milik Israel menyerang area di dekat Rumah Sakit Ghandour, Kota Nabatieh.
Serangan udara juga menyasar Kota Braashit yang terletak di Distrik Bint Jbiel. Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi mengenai kerusakan material maupun korban jiwa akibat serangan tersebut.
Tidak hanya serangan udara, militer Israel dilaporkan melakukan operasi pembongkaran paksa terhadap sejumlah rumah di Kota Hadatha.
Ledakan besar lainnya juga terdengar di sekitar Kota Kounine serta Tayri yang berada di distrik yang sama. Sementara itu, drone pengintai Israel terpantau terbang rendah di atas langit Tirus.
Hingga saat ini, pihak militer Israel belum memberikan komentar resmi terkait serangan maupun operasi penghancuran tersebut.
Biasanya, Israel berdalih bahwa serangan mereka ditujukan untuk melumpuhkan milisi Hizbullah serta infrastruktur pendukungnya. Namun, pemerintah Lebanon berulang kali menegaskan bahwa serangan tersebut justru menimbulkan banyak korban dari kalangan warga sipil.
Ketegangan ini terjadi di tengah upaya diplomatik yang tengah berlangsung. Pada 26 Juni lalu, Israel dan Lebanon menandatangani kerangka kerja yang dimediasi oleh Amerika Serikat.
Kesepakatan tersebut mengatur rencana penarikan bertahap pasukan Israel dari wilayah Lebanon. Rencana itu dimulai dengan pembentukan dua zona percontohan yang hingga kini lokasinya belum ditentukan.
Para pejabat Lebanon sempat menggambarkan perjanjian tersebut sebagai langkah awal pemulihan kedaulatan negara. Selain itu, kesepakatan ini diharapkan mampu memfasilitasi kepulangan penduduk yang sempat mengungsi akibat konflik.
Namun, kelompok Hizbullah menanggapi kesepakatan tersebut dengan keras. Mereka secara terbuka menolak perjanjian itu dan menyebutnya sebagai sesuatu yang memalukan serta tidak memiliki dasar.
Kondisi di lapangan saat ini masih menunjukkan ketidakpastian yang tinggi. Meski jalur diplomasi telah dibuka, aktivitas militer di wilayah perbatasan Lebanon masih terus berlanjut tanpa tanda-tanda mereda.
Masyarakat internasional kini menanti langkah selanjutnya dari kedua belah pihak di tengah ancaman eskalasi konflik yang lebih luas di kawasan tersebut.











