Timnas Jepang kembali menelan pil pahit di fase gugur Piala Dunia setelah takluk 0-1 dari Brasil pada menit ke-96. Kekalahan ini menjadi catatan kelam bagi Samurai Biru yang gagal memetik kemenangan dalam lima laga fase gugur terakhir mereka. Kegagalan tersebut memicu perdebatan mengenai masa depan kepelatihan tim nasional.
Nama Ange Postecoglou kini mencuat sebagai kandidat paling ideal untuk menukangi Jepang. Pelatih asal Australia itu dinilai memiliki karakter dan mentalitas yang dibutuhkan Jepang untuk menembus tembok pembatas level elit dunia. Pundit sepak bola internasional ini dianggap mampu membawa perubahan gaya bermain yang lebih berani.
Federasi Sepak Bola Jepang (JFA) didorong untuk segera bergerak mengamankan tanda tangan pria berusia 60 tahun tersebut. Postecoglou bukan sosok asing di negeri Sakura. Ia pernah sukses besar saat melatih Yokohama F. Marinos dengan mempersembahkan gelar juara J.League yang telah dinanti selama 15 tahun.
Pengalamannya di Jepang menjadi nilai tambah besar bagi sang pelatih. Ia memahami kultur, pemain, hingga peta kekuatan sepak bola di sana. Postecoglou dikenal dengan filosofi menyerang atau yang populer dengan sebutan Angeball. Gaya ini sangat kontras dengan taktik Hajime Moriyasu yang kerap dianggap terlalu berhati-hati saat menghadapi lawan tangguh.
Dalam analisisnya, Postecoglou sempat mengkritik taktik defensif Jepang saat melawan Brasil. Ia melihat tim tersebut memiliki kualitas mumpuni, namun terlalu takut mengambil risiko sejak awal pertandingan. Jepang seringkali baru berani tampil menyerang setelah tertinggal lebih dulu oleh lawan.
Masalah utama Samurai Biru bukan pada minimnya talenta, melainkan kurangnya kepercayaan diri saat menghadapi tim papan atas dunia. Sejak 2002, Jepang kerap terjebak dalam pola yang sama. Mereka sering memimpin pertandingan, namun gagal mempertahankan keunggulan hingga peluit akhir berbunyi.
Membawa Postecoglou berarti memberikan suntikan mentalitas pemenang. Pelatih ini terbukti mampu membawa timnya bermain menekan tanpa mempedulikan siapa lawannya. Jika kesepakatan ini terwujud, tantangan pertama baginya adalah Asian Cup yang akan berlangsung pada Januari mendatang.
Meski demikian, Jepang sebenarnya sudah menjadi kekuatan dominan di Asia. Tugas sesungguhnya bagi calon pelatih baru adalah mendobrak pintu elit sepak bola global. Kehadiran Postecoglou diharapkan menjadi kunci utama untuk mengubah Jepang dari tim yang disegani menjadi tim yang benar-benar ditakuti di panggung dunia. Kini, keputusan besar ada di tangan federasi untuk menentukan arah masa depan Samurai Biru.











