AS Endus Rencana Licik Israel Incar Nyawa Negosiator Iran di Tengah Upaya Gencatan Senjata

Heni Maulidya

Pemerintah Amerika Serikat dilaporkan tengah memantau ketat adanya ancaman serius terhadap para diplomat Iran. Washington mencium gelagat Israel yang diduga berencana melakukan operasi pembunuhan terhadap sejumlah pejabat tinggi Teheran.

Target utama dari rencana tersebut diyakini adalah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, dan Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf. Keduanya merupakan sosok sentral dalam meja perundingan gencatan senjata antara Iran dengan AS serta negara-negara kawasan.

Kekhawatiran AS terhadap keselamatan kedua tokoh tersebut meningkat tajam selama proses negosiasi berlangsung. Mengutip laporan New York Times pada Kamis (2/7), Washington bahkan meminta sejumlah negara di Timur Tengah untuk memperingatkan Iran terkait potensi serangan Israel ini.

Para pejabat AS mengakui bahwa di tengah intensitas perang, para negosiator Iran ini dianggap sebagai target sah oleh pihak Israel. Namun, AS menilai pembunuhan tersebut justru akan memicu eskalasi konflik yang lebih luas dan menghentikan seluruh upaya perdamaian yang sedang dibangun.

Sebelumnya, Wall Street Journal pada April lalu melaporkan bahwa nama Araghchi dan Ghalibaf telah masuk dalam daftar target Israel. Pemerintah AS di bawah pimpinan Presiden Trump sempat meminta Israel menahan diri setelah mengetahui rencana tersebut.

Israel sendiri disebut sangat berambisi menghabisi Ketua Parlemen Iran itu. Tiga pejabat senior Iran mengungkapkan Ghalibaf nyaris tewas dalam operasi brutal Israel pada Juni tahun lalu. Kala itu, ia sempat terjebak di bawah reruntuhan sebelum akhirnya berhasil diselamatkan.

Anggota Parlemen Iran, Mohsen Zanganeh, menegaskan bahwa tim negosiator Iran saat ini bekerja dengan risiko keamanan yang sangat tinggi. Ia menyebut dedikasi Araghchi dan Ghalibaf sebagai bentuk pengorbanan nyata demi negara.

Ketegangan mencapai puncaknya saat Ghalibaf dijadwalkan bertemu dengan Wakil Presiden AS, JD Vance, di Islamabad pada April lalu. Iran sempat meminta jaminan keamanan kepada AS melalui perantara Qatar dan Pakistan agar Israel tidak melakukan operasi rahasia.

Meski perjalanan tersebut dikawal ketat oleh jet tempur Pakistan, ancaman tetap muncul saat delegasi hendak kembali ke Teheran. Pasukan keamanan Iran menerima informasi intelijen mengenai rencana serangan Israel terhadap pesawat yang membawa Ghalibaf.

Laporan intelijen menyebut dua jet tempur Israel memasuki wilayah udara Iran dari perbatasan barat. Pesawat Ghalibaf akhirnya melakukan pendaratan darurat di Mashhad, dan rombongan terpaksa melanjutkan perjalanan darat selama delapan jam menuju Teheran.

Situasi keamanan semakin genting setelah operasi besar-besaran AS dan Israel pada Februari lalu menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei. Hingga kini, upaya diplomasi terus diuji di tengah bayang-bayang ancaman pembunuhan yang terus menghantui para negosiator Iran.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All