Redam Ketegangan di Selat Hormuz, AS dan Iran Sepakati Gencatan Senjata

Heni Maulidya

Amerika Serikat dan Iran akhirnya sepakat untuk menghentikan seluruh aksi permusuhan yang sempat memanas di kawasan strategis Selat Hormuz. Upaya ini dilakukan untuk mencegah eskalasi konflik yang lebih luas setelah sempat terjadi kebuntuan di lapangan.

Kedua negara dijadwalkan akan menggelar perundingan krusial di Doha, Qatar, pada Selasa, 30 Juni 2026. Pertemuan tersebut fokus membahas implementasi kesepakatan damai yang sempat memicu perbedaan penafsiran antar kedua pihak.

Laporan Axios pada Minggu, 28 Juni 2026, menyebutkan bahwa ketegangan dipicu oleh interpretasi berbeda terhadap nota kesepahaman atau MoU yang mengakhiri perang. Poin utama yang dipersoalkan adalah mekanisme pelayaran di Selat Hormuz.

Seorang pejabat senior AS menyatakan bahwa mereka telah memutuskan untuk menghentikan seluruh aktivitas kinetik. Pernyataan tersebut merujuk pada penghentian total segala bentuk serangan serta operasi militer bersenjata di wilayah terkait.

Berdasarkan MoU yang disepakati, Iran berkomitmen menjamin keamanan kapal-kapal dagang yang melintasi Selat Hormuz. Sebagai timbal baliknya, AS sepakat untuk mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan milik Iran.

Kesepakatan damai ini sebelumnya ditandatangani secara elektronik oleh Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden AS Donald Trump di Islamabad pada 18 Juni 2026. Perjanjian tersebut mencakup penghentian perang, pembukaan kembali jalur laut, dan pembahasan nuklir.

Dalam perundingan di Swiss pekan lalu, Wakil Presiden AS JD Vance dan delegasi Iran juga menyepakati pembentukan jalur komunikasi langsung. Jalur khusus ini menghubungkan militer AS dengan Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC.

Fungsi utama jalur komunikasi tersebut adalah mengoordinasikan lalu lintas pelayaran agar tidak terjadi kesalahpahaman. Namun, hingga Sabtu, 27 Juni 2026, sistem koordinasi tersebut dilaporkan belum beroperasi secara optimal.

Di sisi lain, Iran tetap menegaskan bahwa setiap kapal yang hendak melintas di Selat Hormuz wajib melakukan koordinasi terlebih dahulu. Hal ini sempat memicu ketegangan baru di lapangan.

Awalnya, pertemuan di Doha direncanakan berlangsung di Swiss dengan fokus utama pada program nuklir Iran. Namun, meningkatnya tensi di Selat Hormuz memaksa perubahan lokasi dan agenda pembahasan demi menjaga stabilitas jalur pelayaran global.

Sebelumnya, The Wall Street Journal melaporkan bahwa perundingan sempat mengalami jalan buntu akibat pecahnya bentrokan. Padahal, kedua pihak sudah berkomitmen melalui MoU untuk mengakhiri perseteruan. Kini, dunia internasional menantikan hasil konkret dari pertemuan di Doha demi memastikan perdamaian tetap terjaga.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All