Beban Klaim BPJS Kesehatan Tembus Rp 191 Triliun, Penyakit Katastropik Jadi Pemicu Utama

Rini Widiyarti

Beban keuangan BPJS Kesehatan sepanjang tahun 2025 mengalami lonjakan signifikan. Total klaim jaminan kesehatan nasional tercatat mencapai Rp 191,33 triliun.

Angka tersebut menunjukkan kenaikan sebesar Rp 15,2 triliun dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2024, total biaya pelayanan kesehatan berada di angka Rp 176,11 triliun.

Kondisi ini memicu rasio klaim BPJS Kesehatan menyentuh 108,27 persen. Secara sederhana, pengeluaran jauh melampaui pendapatan dari iuran peserta setiap bulannya.

Direktur Utama BPJS Kesehatan, Prihati Pujowaskito, memberikan penjelasan terkait fenomena tersebut. Lonjakan biaya selaras dengan masifnya pertumbuhan jumlah kepesertaan masyarakat di Indonesia.

Hingga 31 Desember 2025, jumlah peserta JKN mencapai 282,7 juta jiwa. Angka tersebut mencakup 98,62 persen dari total penduduk Indonesia secara keseluruhan.

Namun, besarnya cakupan layanan ini menciptakan tantangan bagi keberlanjutan program kesehatan nasional. Salah satu faktor utama penyedot anggaran adalah penyakit katastropik.

Penyakit dengan biaya perawatan tinggi ini menguras anggaran secara fantastis. Total dana yang terserap mencapai Rp 50,3 triliun untuk 59,9 juta kasus.

Proporsi biaya penyakit katastropik berkisar antara 26,28 hingga 26,42 persen. Angka ini menjadi beban berat bagi keuangan BPJS Kesehatan setiap tahunnya.

Prihati menyoroti bahwa banyak penyakit tersebut sebenarnya bisa diantisipasi. Penerapan pola hidup sehat menjadi kunci utama pencegahan sejak dini.

Penyakit jantung tercatat sebagai penyerap anggaran terbesar saat ini. Sebanyak 29,7 juta kasus jantung menelan biaya hingga Rp 17,3 triliun.

Gagal ginjal menyusul di posisi kedua dengan 12,6 juta kasus. Pembiayaannya mencapai Rp 13,3 triliun sepanjang tahun 2025 yang lalu.

Peringkat ketiga diduduki oleh penyakit kanker dengan penyerapan Rp 10,3 triliun. Total terdapat 7,1 juta kasus kanker yang ditangani BPJS Kesehatan.

Posisi keempat ditempati stroke yang menghabiskan dana Rp 7,2 triliun. Jumlah kasus stroke mencapai 9,5 juta sepanjang tahun 2025.

Selain itu, hemofilia menyerap anggaran sebesar Rp 909,6 miliar. Sementara penyakit thalassemia membutuhkan biaya sekitar Rp 852,7 miliar untuk pasien.

Sirosis hati menjadi beban biaya terendah dalam kategori katastropik. Anggaran yang terserap mencapai Rp 278,1 miliar dari 311,3 ribu kasus.

Tingginya angka klaim ini menjadi catatan penting bagi manajemen BPJS Kesehatan. Fokus pada promotif dan preventif menjadi langkah krusial ke depan.

Diharapkan masyarakat dapat lebih peduli terhadap kesehatan diri sendiri. Upaya deteksi dini sangat efektif menekan beban pembiayaan jangka panjang tersebut.

Pemerintah dan BPJS Kesehatan kini terus berupaya menjaga stabilitas keuangan. Keseimbangan antara iuran dan biaya pelayanan menjadi prioritas utama ke depan.

Baca Juga

Tags

Menjadi Sorotan

View All